Kick Off 2026 Sekolah BM 400 Meneguhkan Arah, Menyatukan Langkah3

Kick Off 2026 Sekolah BM 400: Meneguhkan Arah, Menyatukan Langkah

Menyambut tahun 2026 Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 kembali melaksanakan kegiatan kick off meeting pada hari Kamis (18/12/2025). Kegiatan ini dirancang sebagai momentum konsolidasi nilai, kebijakan, dan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan pendidikan yang kian menantang. Hadir seluruh guru BM 400 dan pimpinan sekolah meneguhkan arah di tahun 2026.

Acara yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB itu menjadi penanda dimulainya fase baru pengelolaan pendidikan Bakti Mulya 400. Bukan hanya evaluasi capaian 2025, tetapi juga penegasan one year policy 2026 yang menuntut disiplin eksekusi dan kesatuan visi di seluruh unit sekolah—Jakarta, Cibubur, hingga Depok yang baru bergabung dalam keluarga besar Bakti Mulya 400.

Kick Off ini terasa istimewa karena menghadirkan dua pemikir publik terkemuka: Prof. Komaruddin Hidayat dan Prof. Yudi Latif. Keduanya hadir bukan sebagai pembicara motivasional, melainkan sebagai peneguh fondasi etis kepemimpinan pendidikan. Diskusi panel bertajuk “The Leadership: Guiding with Faith and Purpose” menjadi ruang refleksi kolektif tentang kepemimpinan yang tidak berhenti pada target administratif, tetapi berpijak pada iman, nilai, dan tujuan jangka panjang.

Dalam laporannya, Deputi KPH/Chief Operating Officer Bakti Mulya 400, Euis Tresna, M.Si. memaparkan capaian strategis tahun 2025 sekaligus peta jalan kebijakan 2026. Ia menekankan pentingnya konsistensi tata kelola, penguatan sumber daya manusia, dan keberlanjutan program yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Sejumlah capaian diapresiasi, termasuk penghargaan purnabakti, penguatan status guru tetap, guru terbaik, sertifikasi pendidik, hingga program apresiasi ibadah umrah bagi guru.

Ketua Pelaksana Harian/CEO Bakti Mulya 400, Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si. dalam sesi pembinaan menegaskan bahwa sekolah tidak boleh kehilangan orientasi nilai di tengah tekanan kinerja. Tahun 2026 adalah fase konsolidasi strategis untuk memperkuat tata kelola, mutu, dan keberlanjutan pendidikan. Berlandaskan tiga pilar—religius, nasionalis, dan internasional—BM 400 diarahkan menjadi sekolah bernilai yang dikelola secara profesional dan berbasis sistem.

“Bakti Mulya 400 tidak sekadar ingin menjadi sekolah unggul di tingkat nasional, tetapi berikhtiar menjadi sekolah dunia—berstandar internasional, berakar pada nilai keislaman, dan berpijak teguh pada kebangsaan”, tegas Sutrisno Muslimin.

Puncak simbolik acara ini adalah penandatanganan Komitmen Capaian Sekolah Bakti Mulya 400 Tahun 2026. Para kepala unit, pimpinan divisi, hingga jajaran manajemen menandatangani dokumen komitmen sebagai pernyataan tanggung jawab bersama. Komitmen itu dipertegas dengan penandatanganan Business Plan Sekolah Bakti Mulya 400 Depok 2026–2031 bersama Ketua Yayasan Amanah Cerdas Bangsa, Ibu Tejaningsih Haiti—menandai fase ekspansi yang diikat oleh tata kelola dan visi yang sama.

Nuansa kebangsaan terasa kental saat untuk pertama kalinya Hymne Bakti Mulya 400 dikumandangkan. Lagu itu bukan sekadar simbol institusi, melainkan penanda identitas kolektif sekolah yang menempatkan pendidikan sebagai kerja nilai dan kebudayaan.

Diskusi panel yang berlangsung hingga siang hari menjadi ruang kontemplatif. Prof. Komaruddin Hidayat mengajak para pendidik kembali pada kepemimpinan batin—kepemimpinan yang dimulai dari kejujuran pada diri sendiri. Sementara Prof. Yudi Latif menegaskan pentingnya moral purpose dalam pendidikan: sekolah harus menjadi ruang pembentukan warga negara yang berkarakter, bukan sekadar penghasil lulusan.

Baca juga : Menemukan Moral Purpose di Medan Pendidikan

Pesan itu dipertegas secara simbolis melalui penyerahan buku karya Yudi Latif, “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia”, kepada sembilan guru perwakilan. Buku tersebut akan digunakan sebagai praktik baik penguatan pendidikan kebangsaan di Bakti Mulya 400—sebuah langkah kecil yang diharapkan memberi gema panjang dalam ruang kelas.

Pada akhirnya, Kick Off 2026 bukan sekadar penanda pergantian tahun kerja, melainkan pernyataan sikap. Bakti Mulya 400 memilih bertumbuh tanpa kehilangan nilai, maju tanpa tercerabut dari akar. Sekolah ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah, pembelajaran adalah kerja peradaban, dan masa depan tidak dibangun oleh kecepatan semata, melainkan oleh arah yang benar. Tahun 2026 pun dibuka dengan satu ikrar —melangkah ke dunia, sambil tetap setia pada iman, kebangsaan, dan martabat manusia.

Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Kepemimpinan: Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Di Infinity Hall, Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, Kamis (18/12/ 2025), kata leadership tidak dibicarakan sebagai jargon manajemen. Ia dibedah pelan-pelan, seperti membuka halaman buku yang sudah lama disimpan. Komarudin Hidayat menyebutnya sebagai leadership with faith and purpose—kepemimpinan yang berangkat dari keyakinan, bergerak dengan tujuan.

Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400 menjadi ruang perenungan. Bukan hanya tentang rencana kerja tahunan, tetapi tentang arah sebuah institusi pendidikan di tengah gelombang perubahan kelas menengah ibu kota. Komarudin, dengan gaya tutur yang reflektif, mengawali paparannya dari sebuah pengamatan sederhana namun menentukan: kelas menengah Jakarta hari ini semakin selektif dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya. Mereka tidak lagi sekadar mencari sekolah swasta, tetapi sekolah swasta yang unggul—menengah ke atas, dengan mutu yang bisa dipercaya.

Di situlah kualitas menjadi kata kunci pertama. Sekolah swasta, menurut Komarudin, hidup dalam hubungan organik antara pemilik, pendiri, CEO, kepala sekolah, dan guru. Tidak ada jaring pengaman bernama APBN. Jika kualitas jatuh, sekolah itu bisa runtuh. Maka lahirlah semangat korporasi—bukan dalam arti komersialisasi semata, melainkan kesadaran bahwa mutu adalah soal hidup dan mati. Maka lahirlah apa yang bisa disebut sebagai etos korporasi sekaligus etika tanggung jawab.

Orang tua kelas menengah sangat jeli. Mereka tidak hanya bertanya siapa kepala sekolahnya atau bagaimana kurikulumnya, tetapi juga memperhatikan hal-hal yang tampak sepele: kebersihan toilet, kerapian sepatu siswa, cara guru berbicara tentang murid. Pernah saya mendengar orang tua yang langsung mengurungkan niat menyekolahkan anaknya hanya karena guru casually mengatakan bahwa murid-murid di sekolah itu “nakal-nakal”. Kalimat seperti itu, betapapun spontan, mencerminkan cara pandang pendidik terhadap amanah yang diembannya.

Ciri kedua sekolah yang sehat adalah keterbukaan. Keterbukaan bukan hanya soal ide, tetapi juga soal uang. Jarang sekali sekolah mau bicara jujur tentang rencana bisnis dan kondisi keuangannya. Padahal, dengan keterbukaan, rasa kebersamaan tumbuh. Warga sekolah merasa ikut berjuang dan menikmati hasilnya bersama. Kepemimpinan yang tertutup melahirkan kecurigaan; kepemimpinan yang transparan menumbuhkan kepercayaan.

Ketiga, sekolah yang baik dikelola dengan semangat kewirausahaan. Ini bukan berarti pendidikan direduksi menjadi bisnis semata, melainkan kesadaran bahwa idealisme memerlukan penopang material yang sehat. Cashflow yang lemah membuat sekolah tidak mampu menggaji guru berkualitas. Guru yang baik tentu akan mencari tempat yang menghargai kompetensinya secara layak. Jika guru tidak berkualitas, murid tidak berkembang, alumni tidak kuat, dan pada akhirnya reputasi sekolah pun menurun. Ini lingkaran sebab-akibat yang tak terelakkan.

Keempat, di era visual dan digital, branding dan advertorial menjadi keniscayaan. Dunia hari ini digerakkan oleh tiga kekuatan besar: energi, uang, dan informasi. Gangguan pada salah satunya dapat mengguncang stabilitas global. Informasi, khususnya, memiliki daya pengaruh luar biasa terhadap emosi dan perilaku masyarakat. Tanpa komunikasi yang cerdas dan terencana, lembaga yang baik sekalipun bisa tenggelam dalam hiruk-pikuk zaman.

Kelima, kepemimpinan modern menuntut kemampuan berkolaborasi dan membangun jejaring. Tidak ada lagi pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian. Ini menuntut kecerdasan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan beradaptasi. Jika dahulu kedalaman satu disiplin ilmu sudah cukup, kini dibutuhkan keluasan wawasan dan life skills: mengelola SDM, budaya organisasi, keuangan, hingga relasi eksternal. Pemimpin sekolah dan guru pun dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Keenam, inovasi harus berjalan seiring dengan pembakuan sistem. Banyak lembaga besar tumbang bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal berinovasi. Namun inovasi tanpa sistem hanya melahirkan ketergantungan pada figur. Sekolah yang kuat adalah sekolah yang sistemnya mapan: siapapun pemimpinnya, mutu tetap terjaga karena SOP berjalan konsisten. Inilah pendekatan sistemik yang membuat institusi mampu diwariskan lintas generasi.

Baca juga : Belajar “Sharing the Planet” di Sekolah BM 400 Cibubur

Dalam konteks ini, Sekolah Bakti Mulya 400 berada pada fase yang menentukan. Ekspansi dan pembangunan sistem secara simultan bukan perkara mudah. Namun justru di titik inilah kepemimpinan berbasis iman dan tujuan diuji. Iman memberi keteguhan dalam ketidakpastian; tujuan memberi arah agar setiap langkah tidak kehilangan makna.

Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan bukan tentang mengejar pertumbuhan semata, melainkan tentang menjaga makna. Sekolah adalah ruang pembentukan nurani dan akal budi. Pemimpinnya bukan sekadar manajer, melainkan penjaga nilai. Ketika iman menjadi sumber integritas dan tujuan menjadi arah gerak, pendidikan akan melahirkan bukan hanya generasi cerdas, tetapi manusia yang utuh, berkarakter, dan berakar pada nilai kemanusiaan.

sharing the planet

Belajar “Sharing the Planet” di Sekolah BM 400 Cibubur

Cibubur — Rabu, 26 November 2025, suasana perpustakaan Bakti Mulya 400 School Cibubur tampak berbeda dari biasanya. Rak-rak buku yang tenang menjelma menjadi penanda petualangan baru ketika siswa-siswi Primary Years Programme (PYP) Grade 1 berkumpul menyambut narasumber dari Divers Clean Action (DCA) https://www.diverscleanaction.org/ —komunitas penyelam yang mendedikasikan diri untuk menjaga kebersihan dan keselamatan laut Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB ini menjadi bagian penting dari Unit of Inquiry (UOI) bertema “Sharing the Planet”, sebuah pembelajaran yang mengajak siswa memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan tanggung jawab bersama menjaga keseimbangan alam.

Menurut Slamet Suwanto, Koordinator PYP Bakti Mulya 400 Cibubur yang menjadi narasumber pendamping, kegiatan ini dirancang agar pengalaman konkret dapat memperdalam pemahaman siswa. “Anak-anak perlu merasakan langsung cerita dari para pelaku di lapangan. Itu membuat pembelajaran lebih bermakna,” ujarnya.

Cerita Nyata dari Dunia Bawah Laut

Sesi dimulai dengan pemaparan foto dan video hasil penyelaman di berbagai perairan Indonesia. Gambar terumbu karang berwarna-warni, penyu yang berenang tenang, dan ikan-ikan kecil yang melintas di antara bebatuan membuat anak-anak terkagum-kagum.

Namun keindahan itu ditingkahi kenyataan pahit. Narasumber menunjukkan foto penyu yang terlilit jaring, karang yang memutih, hingga sampah rumah tangga yang terdampar di kedalaman laut.

Ini rumah mereka,” katanya sembari memperlihatkan foto seekor penyu yang tubuhnya terimpit limbah plastik. “Kalau kita tidak jaga, mereka tidak bisa bertahan.

Anak-anak yang sebelumnya ramai tiba-tiba hening. Beberapa terlihat menatap foto lama-lama, seakan membandingkan benda-benda itu dengan keseharian mereka. Momen ini menjadi titik awal munculnya empati yang menjadi inti pembelajaran UOI.

Bagaimana Penyelam Membersihkan Laut?

Setelah sesi pengenalan, siswa diajak memahami bagaimana DCA bekerja. Mereka menyaksikan video para penyelam yang mengangkat sampah dari dasar laut menggunakan jaring besar, memilahnya, hingga mencatat data untuk tujuan riset.

Kami bukan hanya menyelam dan mengambil sampah,” jelas narasumber. “Kami mencatat jenis dan jumlahnya untuk mengetahui pola pencemaran.

Anak-anak juga menyaksikan adegan penyelamatan hewan laut—penyu Bali yang berhasil dibebaskan dari lilitan tali nilon serta ikan pari kecil yang terjebak alat pancing. Wajah siswa tampak bergantian antara kaget dan prihatin.

Perpustakaan berubah menjadi ruang belajar yang hidup, tempat anak-anak mengalami secara langsung bagaimana upaya pelestarian laut dilakukan.

Sesi Tanya Jawab yang Membangun Kesadaran

Bagian paling menarik muncul ketika sesi tanya jawab dimulai. Anak-anak mengangkat tangan bersamaan, mengajukan pertanyaan spontan khas usia PYP Grade 1.

Kenapa lautnya bisa kotor?” tanya seorang siswa.
Karena sampah dari darat terbawa air hujan dan sungai hingga ke laut,” jawab penyelam.

Ikan-ikan kalau rumahnya kotor pergi ke mana?
Ada yang pindah, ada yang mati, karena mereka kehilangan tempat tinggal.

Pertanyaan tentang hiu memancing tawa seluruh ruangan. “Apakah penyelam takut hiu?
Hiu tidak berbahaya kalau tidak diganggu. Laut yang rusak justru lebih berbahaya.

Dialog sederhana ini membuat konsep Sharing the Planet menjadi lebih mudah dipahami: manusia, hewan, dan alam saling terhubung. Setiap keputusan membawa pengaruh bagi keseimbangan kehidupan.

Menghubungkan Pembelajaran dengan Aksi Nyata

Usai sesi bersama DCA, guru-guru melanjutkan diskusi di kelas. Anak-anak diajak merenungkan: apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu menjaga laut?

Baca juga : Heroes’ Day & Parents’ Workshop – “My Family is My Hero” di Sekolah BM 400 Cibubur

Jawaban mereka sederhana namun bermakna:

  • membawa botol minum sendiri,
  • mengurangi sampah plastik,
  • membuang sampah pada tempatnya,
  • mengingatkan keluarga agar menjaga lingkungan.

Menurut Slamet Suwanto, membangun kebiasaan kecil seperti itu adalah fondasi penting dalam pendidikan lingkungan sejak dini. “Anak-anak adalah generasi yang akan mewarisi bumi. Tanggung jawab melindungi laut dimulai dari langkah-langkah kecil yang mereka lakukan hari ini,” ujarnya.

Planet ini adalah rumah bersama, dan setiap orang—termasuk anak-anak—punya peran menjaga keberlanjutan hidup di dalamnya.

My Family is My Hero

Heroes’ Day & Parents’ Workshop – “My Family is My Hero” di Sekolah BM 400 Cibubur

Di Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, suasana pagi Kamis, 20 November, mulai terasa berbeda sejak pukul 07.30. Para orang tua berdatangan dengan menggandeng anaknya yang tampak antusias. Pintu Infinity Hall dibuka lebar, menyambut para parents untuk melakukan registrasi. Di hari itu, sekolah menyelenggarakan Heroes’ Day & Parents’ Workshop dengan tema besar: “My Family is My Hero.”

Tema itu dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Slamet Suwanto, Koordinator PYP yang juga menjadi narasumber kegiatan, keluarga adalah “landasan pertama tempat nilai-nilai kepahlawanan tumbuh: keteladanan, keberanian, empati, dan ketangguhan.” Kegiatan ini, katanya, menjadi cara sekolah menghadirkan kembali spirit itu dalam ruang yang hangat, ringan, dan menyenangkan.

Ruang Belajar yang Menjadi Ruang Bermain

Setelah registrasi, para orang tua mengikuti sesi workshop di Infinity Hall. Di waktu yang sama, siswa di kelas memulai aktivitas bertema pahlawan: membuat kartu ucapan, menonton film pendek, dan berdiskusi tentang arti kepahlawanan dalam keluarga.

Menjelang pukul 09.30, sekolah berubah menjadi arena permainan. Titik-titik aktivitas tersebar di berbagai sudut:

  • Puzzle Pahlawan di depan Infinity Hall,
  • Guess the Hero di Perpustakaan,
  • Sambung Lirik Bertema Heroisme di Amphitheater,
  • Tebak Kata/Gambar di Outdoor Playground,
  • Hero Message Relay di Lapangan Basket,
  • Estafet Bola di Lobby Utama.

Di setiap pos, orang tua dan anak membentuk tim kecil. Ada yang serius menyusun puzzle, ada yang tertawa karena salah menebak gambar pahlawan, ada pula yang berlarian sambil membawa bola dalam estafet. Tak ada sekat antara orang dewasa dan anak-anak—semua larut sebagai satu keluarga besar yang sedang merayakan kebersamaan.

Kamis yang Menghangatkan, Jumat yang Meriah

Kegiatan Heroes Day berlanjut pada Jumat, 21 November, khusus untuk jenjang EYP. Registrasi dilakukan di Library, sementara anak-anak kembali ke kelas masing-masing. Agenda hari itu lebih meriah dengan Fashion Show Kostum Pahlawan di Infinity Hall. Kostum beraneka rupa—dari pahlawan nasional hingga pahlawan super modern—menjadi panggung kreativitas anak dan orang tua. Sorakan dan tepuk tangan mengiringi setiap langkah kecil para peserta runway cilik.

Keluarga: Pahlawan yang Tak Pernah Minta Penghargaan

Lewat seluruh rangkaian kegiatan, pesan yang ingin disampaikan sekolah jelas: pahlawan bukan hanya tokoh sejarah atau figur besar di media. Pahlawan juga hadir di meja makan, antar-jemput pagi hari, doa sebelum tidur, dan dalam genggaman tangan orang tua yang tak pernah lelah membimbing.

Baca juga : Ratusan Warga Ikut Antri Pengobatan dan Khitanan Gratis di Bakti Mulya 400 Cibubur

“Anak-anak belajar tentang keberanian bukan dari buku, tapi dari contoh. Dan contoh paling dekat adalah keluarganya,” ujar Slamet Suwanto.

Heroes’ Day & Parents’ Workshop tahun ini menjadi bukti bahwa ketika keluarga dan sekolah bergandengan tangan, nilai-nilai kepahlawanan bukan sekadar slogan—melainkan pengalaman nyata yang dirasakan anak-anak.

Dengan langkah kecil di pagi yang cerah, Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur kembali menegaskan komitmennya: membentuk generasi yang kuat, berkarakter, dan mencintai keluarganya—karena di dalam keluargalah pahlawan sejati bermula.

WhatsApp Image 2025-10-30 at 14.31.17

Indonesia Bukanlah Pinggiran Sejarah, Melainkan Nadi Dunia

Catatan Peluncuran Buku:  Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?, Karya Yudi Latif di The Sultan Hotel, Jakarta, 29 Oktober 2025

Buku ini merupakan karya nonfiksi kreatif yang menggabungkan data dan narasi hidup, mengajak pembaca untuk tidak sekadar mengetahui fakta, melainkan mengalami peradaban Nusantara secara emosional dan intelektual. Tujuan utamanya adalah menegaskan betapa besar peran alam, manusia, dan kebudayaan Indonesia dalam membentuk wajah dunia.

Penulis merangkai berbagai informasi lintas bidang — mulai dari kekayaan laut, hutan tropis, keragaman hayati, teknologi, arsitektur, hingga seni dan kuliner — menjadi satu mosaik utuh tentang keagungan Nusantara. Kumpulan penemuan dan refleksi tersebut tumbuh menjadi kesadaran bahwa Indonesia memiliki signifikansi yang terlalu besar untuk diabaikan sejarah.

Dari kesadaran inilah buku ini lahir — sebagai undangan untuk menengok kembali jejak sejarah Nusantara, memahami dan merayakan sumbangsih bangsa ini bagi dunia. Dalam 22 bagian, penulis menguraikan luasnya pengaruh Indonesia: mulai dari geologi, geografi, oseanografi, hingga posisi strategis Nusantara sebagai titik silang peradaban global.

Sumber daya alam, hutan tropis, keanekaragaman hayati, hingga warisan pengetahuan tradisional seperti jamu dan obat herbal menjadi bagian dari kekuatan Indonesia yang turut menghidupi dunia. Keindahan alamnya telah menjadi inspirasi tanpa batas; sementara penemuan arkeologis dan paleoantropologis menunjukkan bahwa jejak awal manusia dan kebudayaan dunia juga tertanam di bumi Nusantara.

Penulis kemudian menelusuri sejarah panjang peradaban maritim yang menjadikan Nusantara penghubung antarbenua dan antarkebudayaan, serta kebesaran kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit yang menorehkan kejayaan teknologi, seni, dan arsitektur.

Buku ini tidak berhenti pada masa lalu. Ia melanjutkan kisah hingga periode modern, ketika Indonesia berperan besar dalam perjuangan anti-kolonial dan perdamaian dunia, melalui Konferensi Asia-Afrika dan Deklarasi Djuanda — yang keduanya mengubah tatanan politik dan hukum laut internasional.

Lebih jauh, Yudi Latif menegaskan bahwa fondasi kebangsaan seperti Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan Bahasa Indonesia bukan hanya milik bangsa ini, tetapi juga merupakan kontribusi luhur Indonesia bagi peradaban dunia.

Melawan Pandangan Barat

Selama berabad-abad, sejarah dunia ditulis dari sudut pandang Barat — dari “atas ke bawah”, dari “barat ke timur”. Dalam narasi itu, Nusantara dianggap hanya sebagai “perpanjangan India” atau “East Indies” yang tidak memiliki peradaban sendiri.

Sebagaimana dikritik oleh Edward Said dalam konsep Orientalism, Barat sering menggambarkan Timur sebagai eksotis, primitif, dan tidak rasional. Padahal, pandangan ini hanyalah bentuk lain dari dominasi intelektual dan politik.

Akibat pandangan itu, sejarah kolonial menggambarkan Nusantara sebagai wilayah pasif yang baru “beradab” setelah kedatangan Barat. Padahal, catatan ekonomi dan pelayaran membuktikan bahwa pelabuhan-pelabuhan Nusantara telah lama menjadi pusat perdagangan dunia dengan aktivitas dagang yang dinamis.

Namun, lemahnya tradisi menulis membuat banyak capaian bangsa ini tak terdokumentasi, sehingga posisinya tampak samar dalam narasi global. Dominasi kolonial bukan hanya melukai tubuh bangsa, tetapi juga melumpuhkan kepercayaan diri kolektif, menciptakan apa yang oleh psikolog David D. Burns disebut “empat D”: defeated (kalah), defective (cacat), deserted (terasing), dan deprived (tercabut).

Dari luka tersebut lahir dua kecenderungan mental: suka meniru dan suka tunduk pada bangsa lain — warisan psikologis kolonial yang masih membekas hingga kini.

Rekonstruksi Sejarah dan Pemulihan Jati Diri

Kemerdekaan sejati, menurut penulis, bukan hanya proklamasi politik, tetapi lahir dari keyakinan diri bangsa untuk berdiri di atas akar budayanya sendiri. Karena itu, sejarah Indonesia harus ditulis ulang dari bawah — dari sudut pandang rakyat, komunitas lokal, dan tradisi lisan, bukan semata dari arsip kolonial.

Berkat kemajuan ilmu pengetahuan modern seperti tes karbon, riset DNA, dan arkeologi, kini bangsa Indonesia memiliki peluang besar untuk menafsir ulang masa lalunya. Naskah kuno, prasasti, dan cerita rakyat harus dibaca sebagai sumber pengetahuan untuk menyusun narasi yang lebih adil dan autentik.

Dengan cara demikian, Indonesia tidak lagi menjadi penonton sejarah, melainkan penulis dan penghidup sejarahnya sendiri. Upaya rekonstruksi jati diri ini adalah bentuk penyembuhan luka lama, dan sekaligus pemulihan rasa percaya diri sebagai bangsa yang berharga dan berpengaruh bagi dunia.

Nusantara dan Jalan Ke Depan

Buku ini tidak bermaksud memuja Indonesia secara berlebihan. Ia justru ingin mengembalikan keadilan sejarah, menempatkan Nusantara pada posisi yang semestinya: bukan dominasi, melainkan perjumpaan antarperadaban.

Baca juga : BM 400 Cibubur: Menumbuhkan Pemimpin Muda yang Berintegritas

Penulis membandingkan kebangkitan berbagai bangsa — Eropa melalui Renaissance, Jepang lewat modernisasi berakar tradisi, dan India dengan spiritualitas serta kesadaran sejarahnya. Sementara itu, Indonesia tetap menjaga kekayaan lokal dan melahirkan pengetahuan yang khas.

Sebagaimana diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara melalui prinsip TrikoKontinuitas, Konvergensi, dan Konsentris — Indonesia harus tetap beragam, terbuka pada dunia, tetapi berpusat pada kepribadiannya sendiri.

Dengan semangat itu, Nusantara dapat menatap masa depan tanpa kehilangan jati diri, namun tetap berkontribusi bagi dunia.
Indonesia bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga cahaya pandu bagi masa depan umat manusia.

Makna dan Pesan Akhir

Pada akhirnya, Yudi Latif menutup bukunya dengan pertanyaan reflektif:

“Apa jadinya dunia tanpa Indonesia?”

Pertanyaan itu bukan sekadar retorika, tetapi seruan moral agar setiap warga bangsa menjaga warisan luhur ini bersama.

Indonesia, kata penulis, adalah anugerah peradaban yang menentukan denyut dunia. Buku ini merupakan ungkapan syukur dan harapan agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah, tetapi terus menemukan kekuatan dalam akar budayanya sendiri.

Informasi: Judul Buku:Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?Epos Sumbangsih Cerlang Nusantara sebagai Pandu Masa Depan | Penulis:Dr. Yudi Latif | Penerbit: Kompas, 2024 | Tebal: ±400 halaman | ISBN: 978-623-523-730-5 | Harga: Rp299.000,- | Kategori: Ilmu Sosial, Kebangsaan, Sejarah Peradaban

Menumbuhkan Pemimpin Muda yang Berintegritas-3

BM 400 Cibubur: Menumbuhkan Pemimpin Muda yang Berintegritas

Cibubur, 24 Oktober 2025 — Semangat kepemimpinan muda bergaung di Infinity Hall Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, ketika seluruh siswa SMP dan SMA berkumpul mengikuti Leadership Talk Show bertema “Inspiring Youth Leadership: Building Initiative, Integrity and Impact.” Acara ini menghadirkan sosok inspiratif Alia Fatika Santosa, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Indonesia sekaligus alumni SD Bakti Mulya 400.

Talk show ini menjadi ruang dialog yang membangkitkan kesadaran akan makna sejati kepemimpinan di kalangan remaja — bukan sekadar memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri dengan integritas, berinisiatif, dan memberi dampak nyata bagi komunitas sekitar.

Alia tampil penuh percaya diri di hadapan para peserta, membagikan kisah perjalanan akademik dan pengalamannya di berbagai forum internasional. Empat tahun lalu, ia duduk di bangku yang sama sebagai siswi penuh mimpi. Kini, ia berdiri di depan panggung yang sama, bukan lagi sebagai murid, melainkan narasumber muda yang menginspirasi.

Menyalakan Tiga Pilar Kepemimpinan: Inisiatif, Integritas, dan Dampak

Dalam sesi interaktifnya, Alia mengajak para siswa untuk memahami bahwa kepemimpinan bukanlah posisi, tetapi sebuah proses dan tanggung jawab. Ia menekankan tiga pilar penting: initiative, integrity, dan impact — yang menjadi fondasi bagi setiap pemimpin masa depan.

“Ambil langkah pertama, jangan tunggu disuruh. Inisiatif itu tanda keberanian,” ujarnya di tengah tepuk tangan peserta.
Ia melanjutkan, “Namun, keberanian tanpa integritas hanya akan menyesatkan. Integritas adalah kompas moral yang akan menuntun setiap keputusan kita.”
Dan akhirnya, kata Alia, kepemimpinan akan bermakna bila menghadirkan dampak positif. “Pemimpin sejati adalah yang keberadaannya membawa perubahan — sekecil apa pun — bagi lingkungannya.”

Prestasi dan Kiprah Internasional

Kredibilitas Alia tidak diragukan lagi. Dalam presentasi yang ditampilkan di layar besar, deretan prestasinya memukau para peserta. Ia pernah meraih penghargaan Best Delegate (1st Place) di UNODC in Paris International MUN 2025, Best Delegate (1st Place) di DISEC Council in ECONOMIX MUN 2025, serta Honorable Mention (3rd Place) di FAO Council in IPBMUN 2025.

Selain itu, ia juga mewakili Indonesia di Islamic Cooperation Youth Forum dalam ajang International Conflict Resolution Camp di Turki tahun 2023, serta menyabet Best Delegate (1st Place) di ICYSUM Council in the 3rd International Model Organization of Islamic Cooperation High School Summit 2022.

Deretan prestasi tersebut menunjukkan bahwa jiwa kepemimpinan dapat diasah melalui kompetisi, kolaborasi, dan keinginan untuk terus belajar.

Membangun Budaya Kepemimpinan di Sekolah

Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Para siswa tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar strategi berbicara di forum internasional, cara membangun rasa percaya diri, dan bagaimana menyeimbangkan prestasi akademik dengan kegiatan organisasi.

Baca juga : “Where We Are in Place and Time”, Menjelajah Dunia dari Ruang Kelas BM 400 Cibubur

Kegiatan Leadership Talk Show merupakan bagian dari komitmen Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur dalam membangun karakter unggul dan jiwa kepemimpinan global bagi peserta didiknya. Melalui kegiatan ini, sekolah ingin menumbuhkan generasi muda yang berani mengambil peran, berakhlak kuat, dan siap berkontribusi untuk bangsa serta dunia.

Where We Are in Place and Time

“Where We Are in Place and Time”, Menjelajah Dunia dari Ruang Kelas BM 400 Cibubur

Cibubur – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan pendidikan modern, Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Cibubur kembali menegaskan komitmennya terhadap pembelajaran yang bermakna dan berorientasi global melalui kegiatan UOI Project Expodalam eksplorasi tema“Where We Are in Place and Time”. Dalam kegiatan ini, siswa menunjukkan hasil belajar dan pemahaman mereka melalui pertunjukan, presentasi, serta pameran hasil karya mereka dengan tajuk “ UOI Project Expo and Dance Around the World”. Acara ini digelar pada hari Selasa, 21 Oktober 2025, bertempat di Infinity Hall, lantai dua, dan diikuti oleh para siswa Grade 1 hingga Grade 5 didampingi para guru dan hadir pula orang tua siswa.

Sejak pagi, aula sekolah sudah dipenuhi semangat. Para siswa mengenakan kostum khas dari berbagai negara—ada yang berbalut kimono Jepang, mengenakan sarung Bali, hingga meniru gaya penjelajah luar angkasa. Mereka bukan sekadar tampil, tetapi mengisahkan perjalanan manusia dalam memahami ruang dan waktu—dari peradaban klasik hingga era digital, dari langkah global hingga mimpi galaksi.

Belajar Melalui Rasa Ingin Tahu

Menurut Slamet Suwanto, Koordinator PYP Bakti Mulya 400 Cibubur, kegiatan ini merupakan bagian dari pendekatan International Baccalaureate Primary Years Programme (IB PYP) yang diadopsi oleh sekolah. “UOI Project Expo bukan hanya pameran hasil karya. Ini adalah puncak dari proses panjang inquiry, di mana anak-anak belajar menemukan, meneliti, dan mempresentasikan pemahaman mereka sendiri tentang konsep besar,” ujarnya.

UOI atau Unit of Inquiry merupakan metode pembelajaran tematik yang menekankan pada pemahaman konsep lintas disiplin. Melalui tema Where We Are in Place and Time, siswa diajak menelusuri perjalanan manusia, mengenal akar budaya, perubahan peradaban, serta peran identitas diri di tengah arus globalisasi.

“Tujuannya agar siswa tak sekadar tahu tentang dunia, tetapi memahami di mana mereka berada dan bagaimana kontribusinya terhadap dunia,” tambah Slamet Suwanto.

Dari Pengetahuan Menjadi Tindakan

Kegiatan UOI Project Expo dirancang untuk membuat proses belajar menjadi tampak (make learning visible). Siswa tidak hanya menunjukkan hasil akhir berupa poster, model, atau video, tetapi juga menampilkan proses berpikirnya—dari tahap eksplorasi, riset, refleksi, hingga aksi nyata.

“Di sinilah pembelajaran benar-benar hidup,” kata Yulia Pratiwi, Koordinator Kesiswaan dan Kehumasan PYP Bakti Mulya 400 Cibubur. “Anak-anak belajar menyampaikan ide, bekerja sama, dan melihat dampak dari pembelajaran mereka terhadap lingkungan sekitar. Mereka belajar bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, tapi langkah menuju aksi dan perubahan.”

Menurut Yulia, kegiatan ini juga menjadi bentuk penilaian holistik. Guru dapat mengamati pemahaman konseptual, proses riset dan inkuiri, kemampuan komunikasi dan presentasi, serta profil pelajar dan sikap yang muncul selama proses. “Ini berfungsi ganda—sebagai asesmen formatif dan sumatif. Jadi kita bisa melihat sejauh mana pemahaman mereka berkembang,” jelasnya.

Panggung Dunia di Infinity Hall

Pukul 08.30 pagi, acara dibuka dengan alunan musik etnik yang berpadu dengan ritme modern. Setiap kelas menampilkan dance performance bertema budaya dunia. Orang tua dan guru menyaksikan dengan kagum, sementara anak-anak menari dengan percaya diri dan kebanggaan.

Namun bukan hanya pertunjukan tari yang menarik perhatian. Di sisi aula, berdiri deretan booth hasil proyek inkuiri siswa. Ada diorama kapal layar zaman penjelajahan, hingga simulasi planet dalam tata surya. Di setiap meja, anak-anak menjelaskan temuan mereka dengan percaya diri menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia.

“Ini bagian dari student agency,” tutur Slamet Suwanto. “Mereka yang menentukan bagaimana cara belajar, apa yang ingin diteliti, dan bagaimana ingin mempresentasikannya. Kami hanya menjadi fasilitator.”

Tema besar From Global Steps to Galactic Dreams yang terpampang di flayer acara mencerminkan visi besar Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur: membentuk pelajar yang berpikir global namun berakar kuat pada nilai lokal dan spiritual. Dalam setiap proyek, siswa diajak melihat keterhubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan—antara budaya dunia dan identitas Indonesia.

Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah

Salah satu ciri khas kegiatan ini adalah keterlibatan komunitas sekolah secara menyeluruh. Para orang tua bukan hanya hadir sebagai penonton, tetapi turut mendukung proses belajar anak sejak awal. Mereka membantu anak menelusuri sumber informasi, membuat karya, hingga mempersiapkan presentasi.

Baca juga : Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur dan Wako High School Jepang Bangun Jembatan Budaya Lewat Bahasa

“Expo ini adalah perayaan bersama—hasil kerja kolaboratif antara siswa, guru, dan orang tua,” kata Yulia. “Dengan begini, pendidikan menjadi ekosistem, bukan aktivitas satu arah.”

Suasana akrab dan hangat terasa di seluruh ruangan. Sesi tanya jawab antara orang tua dan siswa berlangsung seru. Beberapa siswa dengan percaya diri menjelaskan konsep geografi dan sejarah, sementara lainnya bercerita tentang tokoh dunia yang menginspirasi mereka.

Refleksi dari Ruang Belajar Modern

Lebih dari sekadar acara tahunan, UOI Project Expo mencerminkan transformasi cara belajar di era abad ke-21. Sekolah tidak lagi menjadi tempat menyerap informasi, melainkan ruang dialog, eksplorasi, dan kreasi.

Slamet Suwanto menegaskan, pembelajaran PYP di Bakti Mulya 400 Cibubur selalu menempatkan siswa sebagai subjek utama pembelajaran. “Mereka bukan hanya learners, tapi juga thinkers dan actors—pemikir dan pelaku. Kita ingin membentuk generasi yang tahu arah, sadar tempat, dan siap menghadapi masa depan.”

Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur dan Wako High School Jepang Bangun Jembatan Budaya Lewat Bahasa

Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur dan Wako High School Jepang Bangun Jembatan Budaya Lewat Bahasa

Cibubur, 14 Oktober 2025 — Dalam semangat mempererat persahabatan antarbangsa, Sekolah Bakti Mulya 400 menggelar program kolaborasi lintas negara bertajuk Culture Bridge 2025: Embracing Diversity, Strengthening Unity . Kegiatan virtual tersebut dilaksnakan antara Bakti Mulya 400 High School Cibubur bersama Wako High School, Machida, Jepang. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (14/10), dengan menghadirkan suasana pertukaran budaya yang hangat, interaktif, dan penuh makna.

Kegiatan dimulai pukul 11.40 WIB (13.40 waktu Jepang) dan diikuti oleh puluhan siswa dari kedua sekolah. Di bawah koordinasi Kepala Sekolah Bakti Mulya 400 High School Cibubur, Iryanto Yossa, M.Si., kegiatan ini menjadi bagian dari proyek kolaborasi bahasa Inggris yang mengintegrasikan pembelajaran komunikasi lintas budaya dengan nilai-nilai global citizenship.

Dalam sambutannya, Iryanto Yossa menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang belajar bahasa Inggris, melainkan sarana untuk menumbuhkan empati, keterbukaan, dan rasa saling menghargai antarbudaya.

“Melalui dialog dan kerja sama, para siswa belajar bahwa perbedaan bukan untuk dijauhi, tetapi untuk dirayakan. Dengan mengenal budaya lain, kita dapat berperan lebih besar dalam masyarakat global,” ujarnya.

Pertemuan Virtual, Jembatan Nyata Antardua Bangsa

Kegiatan berlangsung dalam delapan ruang virtual yang masing-masing diisi oleh kelompok siswa berbeda. Setiap kelompok menampilkan ragam budaya Indonesia dalam bentuk presentation, pakaian tradisional, pameran makanan dan minuman khas, hingga demonstrasi permainan daerah.

Tak hanya menampilkan atraksi, para siswa juga mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris mereka dalam menjelaskan makna budaya kepada teman-teman dari Wako High School. “Kami ingin agar siswa tidak hanya bisa speaking English, tetapi juga speaking their identity,” tutur Jelita Bestari, S.Pd. guru pembimbing yang terlibat dalam proyek ini.

Baca juga : Soft Launching Bakti Mulya 400 Depok

Program ini merupakan bagian dari visi Bakti Mulya 400 untuk mencetak pelajar berkarakter global yang berakar kuat pada budaya nasional. Melalui pendekatan proyek kolaboratif, sekolah mendorong siswa untuk berperan sebagai young cultural ambassadors—duta muda yang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di kancah internasional.

Bakti Mulya 400 High School Cibubur berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan yang menyeimbangkan antara global competence dan local wisdom. Melalui kegiatan seperti Culture Bridge, siswa tidak hanya memahami aspek akademik bahasa, tetapi juga makna moral di baliknya: bagaimana menghormati perbedaan, membangun kolaborasi, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Soft Launching Bakti Mulya 400 Depok

Soft Launching Bakti Mulya 400 Depok

Depok— Sebuah babak baru dalam dunia pendidikan nasional resmi dimulai hari ini. Di bawah langit cerah Depok, Sekolah Bakti Mulya 400 (BM400) International Depok menggelar soft launching sekaligus membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2026/2027 (Jumat, 10/10/2025)

Acara ini bukan merupakan perwujudan kolaborasi strategis antara Yayasan Bakti Mulya 400 dan Yayasan Amanah Cerdas Bangsa — dua lembaga pendidikan yang bersinergi menghadirkan sekolah unggulan berlandaskan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan kompetensi global.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Harian Yayasan Bakti Mulya 400, Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si, menyebut hari ini sebagai momentum bersejarah yang akan membuka jalan bagi lahirnya generasi unggul Indonesia.

Ia menjelaskan, arah pengembangan BM400 Depok dibangun di atas lima pilar utama: Pertama, menanamkan nilai Islam yang universal, tidak sektarian, dan tidak berafiliasi pada aliran atau partai tertentu. Kedua, Menumbuhkan nasionalisme, membentuk warga negara yang disiplin, bertanggung jawab, dan cinta tanah air. Ketiga, menghadirkan guru-guru kompeten yang menjadi panutan bagi siswa. Keempat, menyediakan sarana dan prasarana modern yang mendukung pembelajaran dan kreativitas. Kelima, memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar, menjadikan sekolah sebagai pusat inspirasi masyarakat.

Pendidikan yang Menghidupkan Semua Potensi

Sorotan berikutnya datang dari Jenderal Polisi (Purn.) Badrodin Haiti, Ketua Pembina Yayasan Amanah Cerdas Bangsa. Dalam sambutannya, mantan Kapolri itu menyampaikan pandangan visioner tentang hakikat pendidikan sebagai motor pembangunan bangsa.

“Melalui yayasan ini, kita bisa berperan dalam pembangunan bangsa dan membantu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi negeri ini,” katanya. “Pendidikan sejati adalah yang mampu mengembangkan semua potensi manusia secara utuh — spiritual, emosional, dan intelektual.”

Badrodin menjabarkan, BM400 Depok akan mengembangkan pendidikan berbasis nilai Islam yang inklusif dan berorientasi pada masa depan. Aspek spiritual, menumbuhkan iman dan takwa yang menyinari perilaku. Aspek emosional, membentuk pribadi yang bijak, stabil, dan bertanggung jawab. Aspek intelektual, menumbuhkan kecerdasan kritis dan kemandirian berpikir. Aspek nasionalisme global, memadukan semangat kebangsaan dengan kemampuan bersaing di tingkat dunia.

Warisan Kebaikan untuk Generasi Mendatang

Acara juga diwarnai dengan amanat Ketua Pengurus Yayasan Bakti Mulya 400 yang dibacakan oleh Prof. Dr. Asep Syarifudin, SH, MH — Guru Besar UIN Jakarta sekaligus anggota pengurus yayasan.

Dalam pesannya, Prof. Asep mengajak seluruh pengurus, pendidik, dan masyarakat untuk menjadikan pendirian BM400 Depok sebagai ladang amal bersama.

“Dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya yakin dan percaya, sekolah ini akan berkembang dengan gemilang. Mari kita jaga kebersamaan ini, kita kuatkan ikhtiar, dan kita panjatkan doa agar apa yang kita bangun hari ini menjadi warisan kebaikan untuk generasi mendatang,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya kerja kolektif dalam mencapai target pendidikan, termasuk capaian jumlah siswa yang optimal. “Semakin banyak anak yang belajar di sini, semakin luas pula manfaat dan keberkahan yang bisa kita sebarkan,” ujar Prof. Asep menutup sambutannya dengan penuh harapan.

Menatap Masa Depan

Dengan dibukanya pendaftaran peserta didik baru mulai 10 Oktober hingga 20 November 2025, Sekolah Bakti Mulya 400 Depok menawarkan tiga jenjang pendidikan: Primary (SD), Lower Secondary (SMP), dan Upper Secondary (SMA). Setiap jenjang dirancang dengan pendekatan internasional yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan Indonesia.

Baca juga : HUT ke 42 Yayasan Bakti Mulya 400: Memperkokoh Bangsa, Menjangkau Dunia

Ciri khas sekolah ini terangkum dalam tiga nilai utama: Nationalist, Islamic, International— sebuah formula pendidikan yang memadukan moralitas, kedisiplinan, dan kompetensi abad ke-21.

Fasilitas modern, guru profesional, serta lingkungan belajar yang kolaboratif menjadi keunggulan BM400 Depok untuk mendidik dengan hati, membentuk akhlak, dan menyiapkan generasi berdaya saing tinggi.

HUT ke-42 BM 400 Jamil Azzaini Ajak Scale Up

HUT ke-42 BM 400: Jamil Azzaini Ajak Scale Up dengan “AJAIB”

Jakarta — Suasana Auditorium Sekolah Bakti Mulya 400 pada peringatan hari jadi ke-42 tampak berbeda. Riuh tepuk tangan para guru, karyawan, dan undangan pecah ketika Jamil Azzaini—motivator yang dikenal sebagai inspiring speaker—naik ke panggung. Dengan gaya tutur yang renyah dan penuh energi, ia mengajak seluruh civitas BM 400 untuk “scale up”, naik kelas dalam mengelola potensi diri dan kontribusi sosial (Selasa, 30/9/2025).

“Ada lima level dalam memanfaatkan potensi diri manusia,” ujarnya membuka. Materi itu, ia sebut sebagai jalan menuju kualitas hidup yang lebih tinggi.

Lima Level Potensi Diri

Pertama, level obscurity. Pada tahap ini, seseorang hidup tanpa arah, tanpa tahu kelebihan dirinya. Jamil mengutip Buya Hamka: “Kalau hidup sekadar hidup, kera di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kerbau juga bekerja.” Sebuah pengingat tajam bahwa hidup tak boleh sekadar rutinitas tanpa makna.

Kedua, level personality. Seseorang mulai mengenali kelebihan dan kekurangannya. Kesadaran ini adalah fondasi untuk bertumbuh.

Ketiga, level mentality. Potensi yang dimiliki dioptimalkan hingga menjelma menjadi keahlian. Pada titik ini, seseorang bukan sekadar tahu dirinya bisa, tapi benar-benar menjadi ahli dalam bidang tertentu.

Keempat, level morality. Fase ketika individu tak lagi sibuk dengan dirinya sendiri. Ia memikirkan kemajuan bersama, membangun rasa “kita”, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Kelima, puncak dari semua level: level spirituality. Pada tahap ini, apapun yang dilakukan semata-mata untuk Allah, tanpa haus pujian atau pengakuan manusia.

Rumus AJAIB

Namun, bagaimana cara naik kelas—terutama dari morality menuju spirituality? Jamil memperkenalkan sebuah formula yang ia sebut “AJAIB”, sebuah akronim yang sarat nilai hidup.

Pertama, Ampuni yang Menyakiti.
“Maaf bukan berarti membenarkan kesalahan,” kata Jamil, “tetapi membebaskan diri dari jeratan luka.” Menurutnya, ada lima penyebab penderitaan: menyesali masa lalu, mengkhawatirkan masa depan, tidak menerima kondisi saat ini, menggantungkan kebahagiaan pada omongan orang lain, dan enggan memaafkan kesalahan orang lain.

Kedua, Jadikan Syukur terhadap Segala Sesuatu.
Jamil menekankan bahwa hanya dua emosi yang seharusnya dipelihara: cinta dan syukur. Bahkan, ia menegaskan profesi guru pun harus dijalani dengan cinta. Ia juga mengingatkan tiga C yang wajib dimiliki setiap insan: competence (kompetensi), reputation (nama baik), dan relation (hubungan harmonis).

Ketiga, Amalkan Kebaikan Selalu.
Tak ada kebaikan yang terlalu kecil. Setiap langkah sederhana—menolong, atau berbagi ilmu—membuka jalan bagi kebaikan yang lebih besar. “Jurnal semua kebaikanmu,” ucapnya, “agar jiwamu semakin kokoh.”

Keempat, Injeksikan Kebahagiaan.
“Amalan yang dicintai Allah adalah yang membangkitkan kebahagiaan,” jelasnya. Ia mengajak hadirin untuk menyebarkan senyum, membantu sesama, dan mengubah masalah menjadi solusi. Dari passion, setiap orang bisa melahirkan kontribusi yang bermakna.

Kelima, Berserah Total kepada Allah.
Di sinilah letak keajaiban. Ketika seseorang berserah, ia tak hanya mengandalkan energi insaniah, tetapi juga energi ilahiah. Jamil mencontohkan kisah Nabi Musa yang dengan izin Allah mampu membelah Laut Merah.

Pesan untuk BM 400

Ceramah motivasi Jamil Azzaini bukan sekadar retorika. Ia meresap ke dalam atmosfer HUT BM 400 yang tahun ini mengusung semangat pembaruan. Selama 42 tahun, sekolah ini berdiri sebagai lembaga pendidikan yang memadukan nilai nasionalisme, religiusitas, dan keterbukaan terhadap dunia.

Dalam konteks pendidikan, rumus “AJAIB” bisa menjadi pedoman guru dan siswa. Mengajarkan anak untuk memaafkan, bersyukur, berbuat baik, menebar kebahagiaan, dan berserah diri. Nilai-nilai itu sejalan dengan visi BM 400 yang tak hanya mendidik untuk pintar, tapi juga berkarakter dan beriman.

Baca juga : Siswa Kelas 5 BM 400 Cibubur Gabungkan Aksi Beramal dan Kreativitas

Peringatan HUT bukan hanya seremonial. Jamil menutup dengan ajakan reflektif: “Kalau kita ingin naik kelas, jangan berhenti di moralitas. Dorong diri kita untuk sampai ke spiritualitas. Di sanalah letak ketenangan hidup yang sesungguhnya.”

Dengan pesan itu, perayaan 42 tahun BM 400 menjadi bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan momentum untuk menatap masa depan. Sebuah perjalanan panjang yang kini ditopang oleh semangat scale up dengan rumus “AJAIB”—ampuni, syukur, amalkan, injeksikan, dan berserah.