Di Infinity Hall, Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, Kamis (18/12/ 2025), kata leadership tidak dibicarakan sebagai jargon manajemen. Ia dibedah pelan-pelan, seperti membuka halaman buku yang sudah lama disimpan. Komarudin Hidayat menyebutnya sebagai leadership with faith and purpose—kepemimpinan yang berangkat dari keyakinan, bergerak dengan tujuan.
Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400 menjadi ruang perenungan. Bukan hanya tentang rencana kerja tahunan, tetapi tentang arah sebuah institusi pendidikan di tengah gelombang perubahan kelas menengah ibu kota. Komarudin, dengan gaya tutur yang reflektif, mengawali paparannya dari sebuah pengamatan sederhana namun menentukan: kelas menengah Jakarta hari ini semakin selektif dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya. Mereka tidak lagi sekadar mencari sekolah swasta, tetapi sekolah swasta yang unggul—menengah ke atas, dengan mutu yang bisa dipercaya.
Di situlah kualitas menjadi kata kunci pertama. Sekolah swasta, menurut Komarudin, hidup dalam hubungan organik antara pemilik, pendiri, CEO, kepala sekolah, dan guru. Tidak ada jaring pengaman bernama APBN. Jika kualitas jatuh, sekolah itu bisa runtuh. Maka lahirlah semangat korporasi—bukan dalam arti komersialisasi semata, melainkan kesadaran bahwa mutu adalah soal hidup dan mati. Maka lahirlah apa yang bisa disebut sebagai etos korporasi sekaligus etika tanggung jawab.
Orang tua kelas menengah sangat jeli. Mereka tidak hanya bertanya siapa kepala sekolahnya atau bagaimana kurikulumnya, tetapi juga memperhatikan hal-hal yang tampak sepele: kebersihan toilet, kerapian sepatu siswa, cara guru berbicara tentang murid. Pernah saya mendengar orang tua yang langsung mengurungkan niat menyekolahkan anaknya hanya karena guru casually mengatakan bahwa murid-murid di sekolah itu “nakal-nakal”. Kalimat seperti itu, betapapun spontan, mencerminkan cara pandang pendidik terhadap amanah yang diembannya.

Ciri kedua sekolah yang sehat adalah keterbukaan. Keterbukaan bukan hanya soal ide, tetapi juga soal uang. Jarang sekali sekolah mau bicara jujur tentang rencana bisnis dan kondisi keuangannya. Padahal, dengan keterbukaan, rasa kebersamaan tumbuh. Warga sekolah merasa ikut berjuang dan menikmati hasilnya bersama. Kepemimpinan yang tertutup melahirkan kecurigaan; kepemimpinan yang transparan menumbuhkan kepercayaan.
Ketiga, sekolah yang baik dikelola dengan semangat kewirausahaan. Ini bukan berarti pendidikan direduksi menjadi bisnis semata, melainkan kesadaran bahwa idealisme memerlukan penopang material yang sehat. Cashflow yang lemah membuat sekolah tidak mampu menggaji guru berkualitas. Guru yang baik tentu akan mencari tempat yang menghargai kompetensinya secara layak. Jika guru tidak berkualitas, murid tidak berkembang, alumni tidak kuat, dan pada akhirnya reputasi sekolah pun menurun. Ini lingkaran sebab-akibat yang tak terelakkan.
Keempat, di era visual dan digital, branding dan advertorial menjadi keniscayaan. Dunia hari ini digerakkan oleh tiga kekuatan besar: energi, uang, dan informasi. Gangguan pada salah satunya dapat mengguncang stabilitas global. Informasi, khususnya, memiliki daya pengaruh luar biasa terhadap emosi dan perilaku masyarakat. Tanpa komunikasi yang cerdas dan terencana, lembaga yang baik sekalipun bisa tenggelam dalam hiruk-pikuk zaman.
Kelima, kepemimpinan modern menuntut kemampuan berkolaborasi dan membangun jejaring. Tidak ada lagi pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian. Ini menuntut kecerdasan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan beradaptasi. Jika dahulu kedalaman satu disiplin ilmu sudah cukup, kini dibutuhkan keluasan wawasan dan life skills: mengelola SDM, budaya organisasi, keuangan, hingga relasi eksternal. Pemimpin sekolah dan guru pun dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Keenam, inovasi harus berjalan seiring dengan pembakuan sistem. Banyak lembaga besar tumbang bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal berinovasi. Namun inovasi tanpa sistem hanya melahirkan ketergantungan pada figur. Sekolah yang kuat adalah sekolah yang sistemnya mapan: siapapun pemimpinnya, mutu tetap terjaga karena SOP berjalan konsisten. Inilah pendekatan sistemik yang membuat institusi mampu diwariskan lintas generasi.
Baca juga : Belajar “Sharing the Planet” di Sekolah BM 400 Cibubur
Dalam konteks ini, Sekolah Bakti Mulya 400 berada pada fase yang menentukan. Ekspansi dan pembangunan sistem secara simultan bukan perkara mudah. Namun justru di titik inilah kepemimpinan berbasis iman dan tujuan diuji. Iman memberi keteguhan dalam ketidakpastian; tujuan memberi arah agar setiap langkah tidak kehilangan makna.
Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan bukan tentang mengejar pertumbuhan semata, melainkan tentang menjaga makna. Sekolah adalah ruang pembentukan nurani dan akal budi. Pemimpinnya bukan sekadar manajer, melainkan penjaga nilai. Ketika iman menjadi sumber integritas dan tujuan menjadi arah gerak, pendidikan akan melahirkan bukan hanya generasi cerdas, tetapi manusia yang utuh, berkarakter, dan berakar pada nilai kemanusiaan.


















































