Tulisan Reflektif dari pemikiran Prof. Dr. Komarudin Hidayat pada saat Kick Off Meeting 2026 Sekolah Bakti Mulya 400, 18 Desember 2025
Oleh karena terlalu sering dipamerkan, kepemimpinan hari ini mirip baliho lusuh di pinggir jalan: besar, mencolok, tapi isinya kosong. Semua orang ingin memimpin, sedikit yang benar-benar siap. Dalam suasana seperti itulah Komarudin Hidayat mengajukan gagasan yang terdengar sederhana, nyaris klise, tapi justru paling sulit dijalankan: leadership dimulai dari diri sendiri.
Ia tidak menyampaikannya dengan nada menggurui. Tidak pula dengan slide penuh grafik dan istilah manajerial. Ia bercerita. Tentang dirinya. Tentang desa. Tentang pesantren. Tentang buku. Tentang mimpi. Cara lama yang hari ini terasa asing, tapi justru itulah inti kepemimpinan: kejujuran pada perjalanan hidup.
Komarudin lahir dari desa miskin di Pabelan, Magelang. Pendidikan pertamanya bukan gedung megah, melainkan serambi masjid. Tidak ada laboratorium canggih, apalagi smart board. Tapi di sana ada guru—para kiai—yang tahu satu hal penting: tugas pendidik bukan sekadar mengisi kepala murid, melainkan menyalakan imajinasinya. Dari imajinasi itulah keberanian tumbuh. Dari keberanian itulah mimpi berangkat.
Ia belajar bahasa Arab, lalu membayangkan dunia Arab. Belajar bahasa Indonesia, lalu menatap dunia yang lebih luas. Pendidikan, baginya, bukan sekadar alat naik kelas, tetapi pintu keluar dari keterbatasan. Pintu gerbang masa depan. Maka wajar jika ia mengatakan masa depan bangsa, keluarga, bahkan pribadi, selalu bermula dari pendidikan.
Di pesantren itulah ia menerima satu rumus hidup yang tak pernah usang: dunia diwariskan kepada mereka yang berilmu dan berakhlak. Pintar saja tidak cukup. Baik saja juga tidak memadai. Kepintaran tanpa akhlak membuat seseorang licin tapi rapuh. Kebaikan tanpa kecakapan menjadikannya tulus tapi tersingkir. Kepemimpinan lahir dari pertemuan dua hal itu: kecerdasan dan karakter.
Komarudin juga mengingat satu kalimat yang terdengar keras, tapi jujur: jangan salahkan Tuhan jika hidupmu kalah. Tuhan telah memberi segalanya. Yang sering absen adalah kesungguhan manusia. Malas membaca, enggan belajar, takut bersaing. Dalam dunia seperti itu, iman bukan alasan untuk pasrah, melainkan energi untuk bergerak.
Pesantren membentuknya dengan disiplin intelektual yang nyaris hilang hari ini: mengamati, menulis, dan berbicara sebagai satu tarikan napas. Ia diwajibkan menulis buku harian—apa pun yang dianggap penting hari itu. Kelak, catatan itu harus dipresentasikan. Dari situ, pikiran dilatih rapi. Kata-kata dipaksa hemat. Bicara tidak lagi asal bunyi.
Buku lalu menjadi kendaraan imajinasinya. Lewat bacaan—dari kisah silat hingga petualangan heroik—ia menjelajah dunia yang tak mungkin ia capai secara fisik. Buku membuatnya merasa besar, berani, dan percaya diri. Bahkan cukup berani untuk bermimpi “menaklukkan Jakarta”. Sebuah mimpi yang bagi anak desa terdengar nekat, tapi bagi jiwa yang terlatih memimpin diri sendiri, itu sekadar langkah berikutnya.
Pesantren menanamkan prinsip self-help yang sederhana tapi keras kepala: percaya pada diri sendiri adalah pangkal kesuksesan. Maka ia berangkat ke Jakarta tanpa jaring pengaman. Tidak takut jatuh. Tidak sibuk menyalahkan keadaan. Ia yakin bisa menghidupi dirinya sendiri. Keyakinan itu bukan keangkuhan, melainkan hasil dari disiplin panjang memimpin diri.
Baca juga : Bersyukur, Kunci Ketengan dan Penguatan Jiwa
Dari sanalah kariernya bertumbuh—wartawan, intelektual, pemikir publik. Semua tampak seperti takdir, padahal sejatinya adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten. Keputusan untuk membaca saat yang lain malas. Menulis saat yang lain mengeluh. Bertahan saat yang lain pulang.
Di titik inilah gagasan leadership with faith and purpose menemukan maknanya yang konkret. Iman bukan sekadar simbol religius, melainkan kompas batin. Purpose bukan slogan motivasi, melainkan arah hidup yang jelas. Tanpa keduanya, kepemimpinan hanya menjadi soal jabatan dan tepuk tangan.
Komarudin mengingatkan dengan tegas: Anda tidak bisa memimpin orang lain jika Anda gagal memimpin diri sendiri. Anda tidak bisa meyakinkan siapa pun jika Anda sendiri ragu pada tujuan Anda. Kepemimpinan bukan soal mengatur orang, melainkan menata diri.
Mungkin itulah sebabnya krisis kepemimpinan hari ini terasa begitu akut. Kita sibuk mencetak pemimpin, tapi lupa mendidik manusia. Kita tergesa-gesa berbicara visi, tapi malas mengurus karakter. Padahal, seperti kata Komarudin, semua kepemimpinan sejati selalu bermula dari satu tempat yang sama: diri sendiri. Dari sana, barulah takdir bisa disusun dengan masuk akal.
