Pada Kamis, 18 Desember 2025, bertempat di Infinity Hall Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, sebuah diskusi penting tentang kepemimpinan digelar dalam rangka Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan para guru dari seluruh unit sekolah. Yudi Latif, cendekiawan publik dan pemikir kebangsaan, hadir sebagai pembicara dalam diskusi panel bertema “Leadership: Faith & Purpose”—sebuah tema yang sengaja dipilih untuk menjawab kegelisahan mendasar dunia pendidikan: ke mana arah kepemimpinan sekolah seharusnya dibawa.
Alih-alih berbicara tentang indikator kinerja atau target institusional, Yudi Latif justru mengajak hadirin menengok lapisan paling dalam dari kepemimpinan: iman, nilai, dan tujuan hidup. Ia menyebutnya sebagai upaya menemukan moral purpose, sebuah landasan etis yang, menurutnya, menjadi kunci mengapa seseorang layak memimpin dan dipercaya.
Menurut Yudi, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengembangkan belief dan values. Di situlah letak keunggulan sekaligus tanggung jawab manusia. Iman melahirkan karakter, dan karakter membentuk cara berpikir serta bertindak. Tanpa iman—yang dipahami bukan semata pengakuan verbal, melainkan keyakinan yang hidup—manusia kehilangan pijakan untuk percaya dan, lebih penting lagi, untuk dipercaya.
“Percaya dan terpercaya adalah fondasi kepemimpinan,” ujarnya. Dalam bahasa Indonesia, kata iman kerap dipadankan dengan “percaya”. Menariknya, kata percaya berakar dari kata “bercahaya”. Orang beriman, dalam pengertian ini, semestinya memancarkan cahaya—memberi terang di tengah gelapnya jalan hidup.



Cahaya itu bukan retorika. Ia hadir dalam keberanian mengambil risiko, dalam keteguhan membangun sekolah di tengah keterbatasan, dan dalam kesanggupan bertahan saat jalan terasa gelap. Iman yang demikian, kata Yudi, bukan sekadar strong faith, melainkan strong and positive faith. Iman yang memancarkan energi positif, bukan prasangka dan kecurigaan.
Nocebo Effect vs Placebo Effect
Di titik inilah Yudi mengingatkan bahaya prasangka negatif, terutama dalam dunia pendidikan. Guru yang datang ke kelas dengan keyakinan negatif—tentang murid, tentang generasi, tentang masa depan—secara tidak sadar sedang memancarkan energi negatif. Energi itu, lambat laun, menjelma menjadi kenyataan. Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai nocebo effect. Sebaliknya, kepercayaan positif melahirkan placebo effect: keyakinan yang menggerakkan potensi dan mewujudkan hasil baik.
Yudi menyoroti kegemaran kita memberi stigma pada generasi muda: Gen Z dianggap dangkal, generasi Alpha disebut tumpul nalar. “Itu berbahaya,” katanya. Prasangka semacam itu bisa berubah menjadi self-fulfilling prophecy. Ketika guru terus-menerus “memberi makan” serigala negatif dalam diri siswa—dengan label, ejekan, atau pesimisme—maka serigala itulah yang tumbuh dan menang.
Ia mengisahkan alegori dua serigala dalam diri manusia: satu serigala positif yang menyemai harapan dan mimpi bermakna, satu serigala negatif yang meremehkan diri dan kehidupan. Serigala mana yang menang? Yang paling sering diberi makan. Di ruang kelas, gurulah yang menentukan porsi makanan itu.
Pengalaman Yudi berjumpa dengan berbagai komunitas justru menunjukkan hal sebaliknya dari stigma populer. Generasi hari ini tidak kalah kritis, bahkan berpotensi lebih cemerlang—asal ekosistemnya mendukung. Dengan gizi yang lebih baik, akses pengetahuan lebih luas, dan lingkungan yang percaya pada potensi mereka, generasi baru bisa melampaui generasi sebelumnya. Pendidikan, dalam hal ini, adalah soal ekosistem kepercayaan.
Moral is Not a Couch, But a Coach
Namun iman dan energi positif saja tidak cukup. Iman harus dibuktikan dalam karakter terpercaya. Yudi menyebut paradoks yang sering kita jumpai: orang mengaku beriman, tetapi korup; berbicara moral, tetapi curang; mengajar nilai, tetapi tak memberi teladan. “Moral is not a couch, but a coach,” katanya. Moral bukan sofa empuk untuk disandari, melainkan pelatih yang menuntut disiplin dan keteladanan.
Karena itu, guru yang tidak bisa dipercaya, mustahil mengajarkan moral. Di republik yang kaya sumber daya alam dan manusia cerdas, yang paling langka justru kepercayaan. Publik haus pada figur yang menunjukkan tanda-tanda bisa dipercaya. Sekali ada isyarat kejujuran dan integritas, dukungan tumbuh cepat—seperti hujan di tengah gurun kering.
Di ruang kelas, satu guru yang terpercaya bisa menghidupkan kembali potensi siswa yang lama kering. Kepercayaan memang sulit dibangun di tengah musim panjang ketidakpercayaan, tetapi begitu tanda-tandanya hadir, manusia dengan sendirinya berkumpul di sekitarnya.
Baca juga : Kepemimpinan: Dipandu Iman, Mencapai Tujuan
Dari kepercayaan itulah tumbuh motivasi dan kesadaran akan potensi diri. Yudi menekankan bahwa tidak ada manusia yang diciptakan sebagai sampah. Setiap anak datang dengan kodrat kecerdasannya masing-masing: matematis, musikal, verbal, atau bentuk lain yang sering tak terukur oleh skor IQ. Ia bahkan meragukan mitos IQ sebagai ukuran tunggal kecerdasan, mengutip Einstein bahwa jenius hanya 25 persen bakat, sisanya usaha.
Pada akhirnya, Yudi Latif menegaskan bahwa pendidikan bukanlah proyek jangka pendek untuk mencetak manusia kompetitif, melainkan proses panjang untuk melahirkan manusia bermakna. Iman memberi akar, kepercayaan memberi energi, keteladanan memberi arah, dan moral purpose memberi tujuan. Ketika setiap individu—guru maupun siswa—menemukan peran moralnya masing-masing dan menjalankannya dengan penuh kesadaran, maka pendidikan tidak hanya menghasilkan individu sukses, tetapi juga membangun peradaban yang berkeadaban. Di sanalah pendidikan menemukan panggilan tertingginya: menjadikan manusia bukan sekadar pandai hidup, melainkan layak dipercaya, berguna bagi sesama, dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.






