Kick Off 2026 Sekolah BM 400 Meneguhkan Arah, Menyatukan Langkah3

Kick Off 2026 Sekolah BM 400: Meneguhkan Arah, Menyatukan Langkah

Menyambut tahun 2026 Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 kembali melaksanakan kegiatan kick off meeting pada hari Kamis (18/12/2025). Kegiatan ini dirancang sebagai momentum konsolidasi nilai, kebijakan, dan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan pendidikan yang kian menantang. Hadir seluruh guru BM 400 dan pimpinan sekolah meneguhkan arah di tahun 2026.

Acara yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB itu menjadi penanda dimulainya fase baru pengelolaan pendidikan Bakti Mulya 400. Bukan hanya evaluasi capaian 2025, tetapi juga penegasan one year policy 2026 yang menuntut disiplin eksekusi dan kesatuan visi di seluruh unit sekolah—Jakarta, Cibubur, hingga Depok yang baru bergabung dalam keluarga besar Bakti Mulya 400.

Kick Off ini terasa istimewa karena menghadirkan dua pemikir publik terkemuka: Prof. Komaruddin Hidayat dan Prof. Yudi Latif. Keduanya hadir bukan sebagai pembicara motivasional, melainkan sebagai peneguh fondasi etis kepemimpinan pendidikan. Diskusi panel bertajuk “The Leadership: Guiding with Faith and Purpose” menjadi ruang refleksi kolektif tentang kepemimpinan yang tidak berhenti pada target administratif, tetapi berpijak pada iman, nilai, dan tujuan jangka panjang.

Dalam laporannya, Deputi KPH/Chief Operating Officer Bakti Mulya 400, Euis Tresna, M.Si. memaparkan capaian strategis tahun 2025 sekaligus peta jalan kebijakan 2026. Ia menekankan pentingnya konsistensi tata kelola, penguatan sumber daya manusia, dan keberlanjutan program yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Sejumlah capaian diapresiasi, termasuk penghargaan purnabakti, penguatan status guru tetap, guru terbaik, sertifikasi pendidik, hingga program apresiasi ibadah umrah bagi guru.

Ketua Pelaksana Harian/CEO Bakti Mulya 400, Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si. dalam sesi pembinaan menegaskan bahwa sekolah tidak boleh kehilangan orientasi nilai di tengah tekanan kinerja. Tahun 2026 adalah fase konsolidasi strategis untuk memperkuat tata kelola, mutu, dan keberlanjutan pendidikan. Berlandaskan tiga pilar—religius, nasionalis, dan internasional—BM 400 diarahkan menjadi sekolah bernilai yang dikelola secara profesional dan berbasis sistem.

“Bakti Mulya 400 tidak sekadar ingin menjadi sekolah unggul di tingkat nasional, tetapi berikhtiar menjadi sekolah dunia—berstandar internasional, berakar pada nilai keislaman, dan berpijak teguh pada kebangsaan”, tegas Sutrisno Muslimin.

Puncak simbolik acara ini adalah penandatanganan Komitmen Capaian Sekolah Bakti Mulya 400 Tahun 2026. Para kepala unit, pimpinan divisi, hingga jajaran manajemen menandatangani dokumen komitmen sebagai pernyataan tanggung jawab bersama. Komitmen itu dipertegas dengan penandatanganan Business Plan Sekolah Bakti Mulya 400 Depok 2026–2031 bersama Ketua Yayasan Amanah Cerdas Bangsa, Ibu Tejaningsih Haiti—menandai fase ekspansi yang diikat oleh tata kelola dan visi yang sama.

Nuansa kebangsaan terasa kental saat untuk pertama kalinya Hymne Bakti Mulya 400 dikumandangkan. Lagu itu bukan sekadar simbol institusi, melainkan penanda identitas kolektif sekolah yang menempatkan pendidikan sebagai kerja nilai dan kebudayaan.

Diskusi panel yang berlangsung hingga siang hari menjadi ruang kontemplatif. Prof. Komaruddin Hidayat mengajak para pendidik kembali pada kepemimpinan batin—kepemimpinan yang dimulai dari kejujuran pada diri sendiri. Sementara Prof. Yudi Latif menegaskan pentingnya moral purpose dalam pendidikan: sekolah harus menjadi ruang pembentukan warga negara yang berkarakter, bukan sekadar penghasil lulusan.

Baca juga : Menemukan Moral Purpose di Medan Pendidikan

Pesan itu dipertegas secara simbolis melalui penyerahan buku karya Yudi Latif, “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia”, kepada sembilan guru perwakilan. Buku tersebut akan digunakan sebagai praktik baik penguatan pendidikan kebangsaan di Bakti Mulya 400—sebuah langkah kecil yang diharapkan memberi gema panjang dalam ruang kelas.

Pada akhirnya, Kick Off 2026 bukan sekadar penanda pergantian tahun kerja, melainkan pernyataan sikap. Bakti Mulya 400 memilih bertumbuh tanpa kehilangan nilai, maju tanpa tercerabut dari akar. Sekolah ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah, pembelajaran adalah kerja peradaban, dan masa depan tidak dibangun oleh kecepatan semata, melainkan oleh arah yang benar. Tahun 2026 pun dibuka dengan satu ikrar —melangkah ke dunia, sambil tetap setia pada iman, kebangsaan, dan martabat manusia.

Menemukan Moral Purpose di Medan Pendidikan

Menemukan Moral Purpose di Medan Pendidikan

Pada Kamis, 18 Desember 2025, bertempat di Infinity Hall Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, sebuah diskusi penting tentang kepemimpinan digelar dalam rangka Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan para guru dari seluruh unit sekolah. Yudi Latif, cendekiawan publik dan pemikir kebangsaan, hadir sebagai pembicara dalam diskusi panel bertema “Leadership: Faith & Purpose”—sebuah tema yang sengaja dipilih untuk menjawab kegelisahan mendasar dunia pendidikan: ke mana arah kepemimpinan sekolah seharusnya dibawa.

Alih-alih berbicara tentang indikator kinerja atau target institusional, Yudi Latif justru mengajak hadirin menengok lapisan paling dalam dari kepemimpinan: iman, nilai, dan tujuan hidup. Ia menyebutnya sebagai upaya menemukan moral purpose, sebuah landasan etis yang, menurutnya, menjadi kunci mengapa seseorang layak memimpin dan dipercaya.

Menurut Yudi, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengembangkan belief dan values. Di situlah letak keunggulan sekaligus tanggung jawab manusia. Iman melahirkan karakter, dan karakter membentuk cara berpikir serta bertindak. Tanpa iman—yang dipahami bukan semata pengakuan verbal, melainkan keyakinan yang hidup—manusia kehilangan pijakan untuk percaya dan, lebih penting lagi, untuk dipercaya.

“Percaya dan terpercaya adalah fondasi kepemimpinan,” ujarnya. Dalam bahasa Indonesia, kata iman kerap dipadankan dengan “percaya”. Menariknya, kata percaya berakar dari kata “bercahaya”. Orang beriman, dalam pengertian ini, semestinya memancarkan cahaya—memberi terang di tengah gelapnya jalan hidup.

Cahaya itu bukan retorika. Ia hadir dalam keberanian mengambil risiko, dalam keteguhan membangun sekolah di tengah keterbatasan, dan dalam kesanggupan bertahan saat jalan terasa gelap. Iman yang demikian, kata Yudi, bukan sekadar strong faith, melainkan strong and positive faith. Iman yang memancarkan energi positif, bukan prasangka dan kecurigaan.

Nocebo Effect vs Placebo Effect

Di titik inilah Yudi mengingatkan bahaya prasangka negatif, terutama dalam dunia pendidikan. Guru yang datang ke kelas dengan keyakinan negatif—tentang murid, tentang generasi, tentang masa depan—secara tidak sadar sedang memancarkan energi negatif. Energi itu, lambat laun, menjelma menjadi kenyataan. Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai nocebo effect. Sebaliknya, kepercayaan positif melahirkan placebo effect: keyakinan yang menggerakkan potensi dan mewujudkan hasil baik.

Yudi menyoroti kegemaran kita memberi stigma pada generasi muda: Gen Z dianggap dangkal, generasi Alpha disebut tumpul nalar. “Itu berbahaya,” katanya. Prasangka semacam itu bisa berubah menjadi self-fulfilling prophecy. Ketika guru terus-menerus “memberi makan” serigala negatif dalam diri siswa—dengan label, ejekan, atau pesimisme—maka serigala itulah yang tumbuh dan menang.

Ia mengisahkan alegori dua serigala dalam diri manusia: satu serigala positif yang menyemai harapan dan mimpi bermakna, satu serigala negatif yang meremehkan diri dan kehidupan. Serigala mana yang menang? Yang paling sering diberi makan. Di ruang kelas, gurulah yang menentukan porsi makanan itu.

Pengalaman Yudi berjumpa dengan berbagai komunitas justru menunjukkan hal sebaliknya dari stigma populer. Generasi hari ini tidak kalah kritis, bahkan berpotensi lebih cemerlang—asal ekosistemnya mendukung. Dengan gizi yang lebih baik, akses pengetahuan lebih luas, dan lingkungan yang percaya pada potensi mereka, generasi baru bisa melampaui generasi sebelumnya. Pendidikan, dalam hal ini, adalah soal ekosistem kepercayaan.

Moral is Not a Couch, But a Coach

Namun iman dan energi positif saja tidak cukup. Iman harus dibuktikan dalam karakter terpercaya. Yudi menyebut paradoks yang sering kita jumpai: orang mengaku beriman, tetapi korup; berbicara moral, tetapi curang; mengajar nilai, tetapi tak memberi teladan. “Moral is not a couch, but a coach,” katanya. Moral bukan sofa empuk untuk disandari, melainkan pelatih yang menuntut disiplin dan keteladanan.

Karena itu, guru yang tidak bisa dipercaya, mustahil mengajarkan moral. Di republik yang kaya sumber daya alam dan manusia cerdas, yang paling langka justru kepercayaan. Publik haus pada figur yang menunjukkan tanda-tanda bisa dipercaya. Sekali ada isyarat kejujuran dan integritas, dukungan tumbuh cepat—seperti hujan di tengah gurun kering.

Di ruang kelas, satu guru yang terpercaya bisa menghidupkan kembali potensi siswa yang lama kering. Kepercayaan memang sulit dibangun di tengah musim panjang ketidakpercayaan, tetapi begitu tanda-tandanya hadir, manusia dengan sendirinya berkumpul di sekitarnya.

Baca juga : Kepemimpinan: Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Dari kepercayaan itulah tumbuh motivasi dan kesadaran akan potensi diri. Yudi menekankan bahwa tidak ada manusia yang diciptakan sebagai sampah. Setiap anak datang dengan kodrat kecerdasannya masing-masing: matematis, musikal, verbal, atau bentuk lain yang sering tak terukur oleh skor IQ. Ia bahkan meragukan mitos IQ sebagai ukuran tunggal kecerdasan, mengutip Einstein bahwa jenius hanya 25 persen bakat, sisanya usaha.

Pada akhirnya, Yudi Latif menegaskan bahwa pendidikan bukanlah proyek jangka pendek untuk mencetak manusia kompetitif, melainkan proses panjang untuk melahirkan manusia bermakna. Iman memberi akar, kepercayaan memberi energi, keteladanan memberi arah, dan moral purpose memberi tujuan. Ketika setiap individu—guru maupun siswa—menemukan peran moralnya masing-masing dan menjalankannya dengan penuh kesadaran, maka pendidikan tidak hanya menghasilkan individu sukses, tetapi juga membangun peradaban yang berkeadaban. Di sanalah pendidikan menemukan panggilan tertingginya: menjadikan manusia bukan sekadar pandai hidup, melainkan layak dipercaya, berguna bagi sesama, dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.

Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Kepemimpinan: Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Di Infinity Hall, Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, Kamis (18/12/ 2025), kata leadership tidak dibicarakan sebagai jargon manajemen. Ia dibedah pelan-pelan, seperti membuka halaman buku yang sudah lama disimpan. Komarudin Hidayat menyebutnya sebagai leadership with faith and purpose—kepemimpinan yang berangkat dari keyakinan, bergerak dengan tujuan.

Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400 menjadi ruang perenungan. Bukan hanya tentang rencana kerja tahunan, tetapi tentang arah sebuah institusi pendidikan di tengah gelombang perubahan kelas menengah ibu kota. Komarudin, dengan gaya tutur yang reflektif, mengawali paparannya dari sebuah pengamatan sederhana namun menentukan: kelas menengah Jakarta hari ini semakin selektif dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya. Mereka tidak lagi sekadar mencari sekolah swasta, tetapi sekolah swasta yang unggul—menengah ke atas, dengan mutu yang bisa dipercaya.

Di situlah kualitas menjadi kata kunci pertama. Sekolah swasta, menurut Komarudin, hidup dalam hubungan organik antara pemilik, pendiri, CEO, kepala sekolah, dan guru. Tidak ada jaring pengaman bernama APBN. Jika kualitas jatuh, sekolah itu bisa runtuh. Maka lahirlah semangat korporasi—bukan dalam arti komersialisasi semata, melainkan kesadaran bahwa mutu adalah soal hidup dan mati. Maka lahirlah apa yang bisa disebut sebagai etos korporasi sekaligus etika tanggung jawab.

Orang tua kelas menengah sangat jeli. Mereka tidak hanya bertanya siapa kepala sekolahnya atau bagaimana kurikulumnya, tetapi juga memperhatikan hal-hal yang tampak sepele: kebersihan toilet, kerapian sepatu siswa, cara guru berbicara tentang murid. Pernah saya mendengar orang tua yang langsung mengurungkan niat menyekolahkan anaknya hanya karena guru casually mengatakan bahwa murid-murid di sekolah itu “nakal-nakal”. Kalimat seperti itu, betapapun spontan, mencerminkan cara pandang pendidik terhadap amanah yang diembannya.

Ciri kedua sekolah yang sehat adalah keterbukaan. Keterbukaan bukan hanya soal ide, tetapi juga soal uang. Jarang sekali sekolah mau bicara jujur tentang rencana bisnis dan kondisi keuangannya. Padahal, dengan keterbukaan, rasa kebersamaan tumbuh. Warga sekolah merasa ikut berjuang dan menikmati hasilnya bersama. Kepemimpinan yang tertutup melahirkan kecurigaan; kepemimpinan yang transparan menumbuhkan kepercayaan.

Ketiga, sekolah yang baik dikelola dengan semangat kewirausahaan. Ini bukan berarti pendidikan direduksi menjadi bisnis semata, melainkan kesadaran bahwa idealisme memerlukan penopang material yang sehat. Cashflow yang lemah membuat sekolah tidak mampu menggaji guru berkualitas. Guru yang baik tentu akan mencari tempat yang menghargai kompetensinya secara layak. Jika guru tidak berkualitas, murid tidak berkembang, alumni tidak kuat, dan pada akhirnya reputasi sekolah pun menurun. Ini lingkaran sebab-akibat yang tak terelakkan.

Keempat, di era visual dan digital, branding dan advertorial menjadi keniscayaan. Dunia hari ini digerakkan oleh tiga kekuatan besar: energi, uang, dan informasi. Gangguan pada salah satunya dapat mengguncang stabilitas global. Informasi, khususnya, memiliki daya pengaruh luar biasa terhadap emosi dan perilaku masyarakat. Tanpa komunikasi yang cerdas dan terencana, lembaga yang baik sekalipun bisa tenggelam dalam hiruk-pikuk zaman.

Kelima, kepemimpinan modern menuntut kemampuan berkolaborasi dan membangun jejaring. Tidak ada lagi pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian. Ini menuntut kecerdasan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan beradaptasi. Jika dahulu kedalaman satu disiplin ilmu sudah cukup, kini dibutuhkan keluasan wawasan dan life skills: mengelola SDM, budaya organisasi, keuangan, hingga relasi eksternal. Pemimpin sekolah dan guru pun dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Keenam, inovasi harus berjalan seiring dengan pembakuan sistem. Banyak lembaga besar tumbang bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal berinovasi. Namun inovasi tanpa sistem hanya melahirkan ketergantungan pada figur. Sekolah yang kuat adalah sekolah yang sistemnya mapan: siapapun pemimpinnya, mutu tetap terjaga karena SOP berjalan konsisten. Inilah pendekatan sistemik yang membuat institusi mampu diwariskan lintas generasi.

Baca juga : Belajar “Sharing the Planet” di Sekolah BM 400 Cibubur

Dalam konteks ini, Sekolah Bakti Mulya 400 berada pada fase yang menentukan. Ekspansi dan pembangunan sistem secara simultan bukan perkara mudah. Namun justru di titik inilah kepemimpinan berbasis iman dan tujuan diuji. Iman memberi keteguhan dalam ketidakpastian; tujuan memberi arah agar setiap langkah tidak kehilangan makna.

Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan bukan tentang mengejar pertumbuhan semata, melainkan tentang menjaga makna. Sekolah adalah ruang pembentukan nurani dan akal budi. Pemimpinnya bukan sekadar manajer, melainkan penjaga nilai. Ketika iman menjadi sumber integritas dan tujuan menjadi arah gerak, pendidikan akan melahirkan bukan hanya generasi cerdas, tetapi manusia yang utuh, berkarakter, dan berakar pada nilai kemanusiaan.

prof_komar

Memimpin Diri, Menyusun Takdir

Tulisan Reflektif dari pemikiran Prof. Dr. Komarudin Hidayat pada saat Kick Off Meeting 2026 Sekolah Bakti Mulya 400, 18 Desember 2025

Oleh karena terlalu sering dipamerkan, kepemimpinan hari ini mirip baliho lusuh di pinggir jalan: besar, mencolok, tapi isinya kosong. Semua orang ingin memimpin, sedikit yang benar-benar siap. Dalam suasana seperti itulah Komarudin Hidayat mengajukan gagasan yang terdengar sederhana, nyaris klise, tapi justru paling sulit dijalankan: leadership dimulai dari diri sendiri.

Ia tidak menyampaikannya dengan nada menggurui. Tidak pula dengan slide penuh grafik dan istilah manajerial. Ia bercerita. Tentang dirinya. Tentang desa. Tentang pesantren. Tentang buku. Tentang mimpi. Cara lama yang hari ini terasa asing, tapi justru itulah inti kepemimpinan: kejujuran pada perjalanan hidup.

Komarudin lahir dari desa miskin di Pabelan, Magelang. Pendidikan pertamanya bukan gedung megah, melainkan serambi masjid. Tidak ada laboratorium canggih, apalagi smart board. Tapi di sana ada guru—para kiai—yang tahu satu hal penting: tugas pendidik bukan sekadar mengisi kepala murid, melainkan menyalakan imajinasinya. Dari imajinasi itulah keberanian tumbuh. Dari keberanian itulah mimpi berangkat.

Ia belajar bahasa Arab, lalu membayangkan dunia Arab. Belajar bahasa Indonesia, lalu menatap dunia yang lebih luas. Pendidikan, baginya, bukan sekadar alat naik kelas, tetapi pintu keluar dari keterbatasan. Pintu gerbang masa depan. Maka wajar jika ia mengatakan masa depan bangsa, keluarga, bahkan pribadi, selalu bermula dari pendidikan.

Di pesantren itulah ia menerima satu rumus hidup yang tak pernah usang: dunia diwariskan kepada mereka yang berilmu dan berakhlak. Pintar saja tidak cukup. Baik saja juga tidak memadai. Kepintaran tanpa akhlak membuat seseorang licin tapi rapuh. Kebaikan tanpa kecakapan menjadikannya tulus tapi tersingkir. Kepemimpinan lahir dari pertemuan dua hal itu: kecerdasan dan karakter.

Komarudin juga mengingat satu kalimat yang terdengar keras, tapi jujur: jangan salahkan Tuhan jika hidupmu kalah. Tuhan telah memberi segalanya. Yang sering absen adalah kesungguhan manusia. Malas membaca, enggan belajar, takut bersaing. Dalam dunia seperti itu, iman bukan alasan untuk pasrah, melainkan energi untuk bergerak.

Pesantren membentuknya dengan disiplin intelektual yang nyaris hilang hari ini: mengamati, menulis, dan berbicara sebagai satu tarikan napas. Ia diwajibkan menulis buku harian—apa pun yang dianggap penting hari itu. Kelak, catatan itu harus dipresentasikan. Dari situ, pikiran dilatih rapi. Kata-kata dipaksa hemat. Bicara tidak lagi asal bunyi.

Buku lalu menjadi kendaraan imajinasinya. Lewat bacaan—dari kisah silat hingga petualangan heroik—ia menjelajah dunia yang tak mungkin ia capai secara fisik. Buku membuatnya merasa besar, berani, dan percaya diri. Bahkan cukup berani untuk bermimpi “menaklukkan Jakarta”. Sebuah mimpi yang bagi anak desa terdengar nekat, tapi bagi jiwa yang terlatih memimpin diri sendiri, itu sekadar langkah berikutnya.

Pesantren menanamkan prinsip self-help yang sederhana tapi keras kepala: percaya pada diri sendiri adalah pangkal kesuksesan. Maka ia berangkat ke Jakarta tanpa jaring pengaman. Tidak takut jatuh. Tidak sibuk menyalahkan keadaan. Ia yakin bisa menghidupi dirinya sendiri. Keyakinan itu bukan keangkuhan, melainkan hasil dari disiplin panjang memimpin diri.

Baca juga : Bersyukur, Kunci Ketengan dan Penguatan Jiwa

Dari sanalah kariernya bertumbuh—wartawan, intelektual, pemikir publik. Semua tampak seperti takdir, padahal sejatinya adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten. Keputusan untuk membaca saat yang lain malas. Menulis saat yang lain mengeluh. Bertahan saat yang lain pulang.

Di titik inilah gagasan leadership with faith and purpose menemukan maknanya yang konkret. Iman bukan sekadar simbol religius, melainkan kompas batin. Purpose bukan slogan motivasi, melainkan arah hidup yang jelas. Tanpa keduanya, kepemimpinan hanya menjadi soal jabatan dan tepuk tangan.

Komarudin mengingatkan dengan tegas: Anda tidak bisa memimpin orang lain jika Anda gagal memimpin diri sendiri. Anda tidak bisa meyakinkan siapa pun jika Anda sendiri ragu pada tujuan Anda. Kepemimpinan bukan soal mengatur orang, melainkan menata diri.

Mungkin itulah sebabnya krisis kepemimpinan hari ini terasa begitu akut. Kita sibuk mencetak pemimpin, tapi lupa mendidik manusia. Kita tergesa-gesa berbicara visi, tapi malas mengurus karakter. Padahal, seperti kata Komarudin, semua kepemimpinan sejati selalu bermula dari satu tempat yang sama: diri sendiri. Dari sana, barulah takdir bisa disusun dengan masuk akal.