DSC00373

Student Transfer Procedures from Abroad – Student Permit Services

Due to the increasing number of applicants from overseas, we would like to inform our school community about the procedures and standard service criteria for certificate recognition, in accordance with the regulations set by the Ministry of Primary and Secondary Education of the Republic of Indonesia (Kemendikdasmen @kemendikdasmen ).

This information is provided to ensure a clear understanding of the required documents, application stages, and verification process, supporting a transparent and well-regulated recognition procedure for international applicants.

📄 Applicants are advised to carefully review the requirements before submitting their application.
📌 Further information is available on https://e-layanan.kemendikdasmen.go.id/

DSC00373

Prosedur Mutasi Siswa Dari Luar Negeri SD, SMP, SMA

Informasi awal:

  1. Orang tua siswa bisa mendapatkan informasi lengkap terlebih dahulu perihal mutasi siswa masuk ke SMP PGII 1 Bandung dari pihak sekolah untuk melihat apakah formasi kelas yang dituju tersedia atau tidak;
  2. Memperlihatkan Raport (Laporan Pendidikan) untuk bahan pertimbangan;
  3. Membayar biaya formulir dan pendaftaran
  4. Mengikuti Wawancara pada waktu yang telah ditetapkan;
  5. Mendapatkan Surat Keterangan Diterima/Menerima Siswa Pindahan.
  6. Memenuhi Persyataran Mutasi:
    • Raport Asli  dan pada bagian belakang Keterangan Pindah sudah ditandatangani oleh kepala sekolah asal;
    • Surat Keterangan Pindah Sekolah dari sekolah asal;
    • Surat Keterangan Pindah Sekolah dari Aplikasi Dapodik (Mutasi Dapodik);
    • Memiliki Nomor NISN (Nomor Induk Siswa Nasional);
    • Buku Pribadi / Buku Perkembangan Siswa (bila ada);
    • Fotocopy KTP suami istri 1 (satu) lembar;
    • Fotocopy STTB/Ijasah SD/SMP/SMA 1 (satu) lembar;
    • Fotocopy DHUN/SHUN/Surat Keterangan Lulus SD/SMP/SMA 1 (satu) lembar;
    • Fotocopy Akta Kelahiran 1 (satu) lembar;
    • Fotokopy Kartu Keluarga (KK) 1 (satu) lembar;
    • Pas Photo Hitam Putih ukuran 3 x 4 = 2 (dua) lembar.

7. Membayar Biaya Pendidikan pada tahun pelajaran yang berjalan

Kontak:

Marketing : +62822-2991-6400
Email : [email protected]

Kick Off 2026 Sekolah BM 400 Meneguhkan Arah, Menyatukan Langkah3

Kick Off 2026 Sekolah BM 400: Meneguhkan Arah, Menyatukan Langkah

Menyambut tahun 2026 Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 kembali melaksanakan kegiatan kick off meeting pada hari Kamis (18/12/2025). Kegiatan ini dirancang sebagai momentum konsolidasi nilai, kebijakan, dan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan pendidikan yang kian menantang. Hadir seluruh guru BM 400 dan pimpinan sekolah meneguhkan arah di tahun 2026.

Acara yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB itu menjadi penanda dimulainya fase baru pengelolaan pendidikan Bakti Mulya 400. Bukan hanya evaluasi capaian 2025, tetapi juga penegasan one year policy 2026 yang menuntut disiplin eksekusi dan kesatuan visi di seluruh unit sekolah—Jakarta, Cibubur, hingga Depok yang baru bergabung dalam keluarga besar Bakti Mulya 400.

Kick Off ini terasa istimewa karena menghadirkan dua pemikir publik terkemuka: Prof. Komaruddin Hidayat dan Prof. Yudi Latif. Keduanya hadir bukan sebagai pembicara motivasional, melainkan sebagai peneguh fondasi etis kepemimpinan pendidikan. Diskusi panel bertajuk “The Leadership: Guiding with Faith and Purpose” menjadi ruang refleksi kolektif tentang kepemimpinan yang tidak berhenti pada target administratif, tetapi berpijak pada iman, nilai, dan tujuan jangka panjang.

Dalam laporannya, Deputi KPH/Chief Operating Officer Bakti Mulya 400, Euis Tresna, M.Si. memaparkan capaian strategis tahun 2025 sekaligus peta jalan kebijakan 2026. Ia menekankan pentingnya konsistensi tata kelola, penguatan sumber daya manusia, dan keberlanjutan program yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Sejumlah capaian diapresiasi, termasuk penghargaan purnabakti, penguatan status guru tetap, guru terbaik, sertifikasi pendidik, hingga program apresiasi ibadah umrah bagi guru.

Ketua Pelaksana Harian/CEO Bakti Mulya 400, Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si. dalam sesi pembinaan menegaskan bahwa sekolah tidak boleh kehilangan orientasi nilai di tengah tekanan kinerja. Tahun 2026 adalah fase konsolidasi strategis untuk memperkuat tata kelola, mutu, dan keberlanjutan pendidikan. Berlandaskan tiga pilar—religius, nasionalis, dan internasional—BM 400 diarahkan menjadi sekolah bernilai yang dikelola secara profesional dan berbasis sistem.

“Bakti Mulya 400 tidak sekadar ingin menjadi sekolah unggul di tingkat nasional, tetapi berikhtiar menjadi sekolah dunia—berstandar internasional, berakar pada nilai keislaman, dan berpijak teguh pada kebangsaan”, tegas Sutrisno Muslimin.

Puncak simbolik acara ini adalah penandatanganan Komitmen Capaian Sekolah Bakti Mulya 400 Tahun 2026. Para kepala unit, pimpinan divisi, hingga jajaran manajemen menandatangani dokumen komitmen sebagai pernyataan tanggung jawab bersama. Komitmen itu dipertegas dengan penandatanganan Business Plan Sekolah Bakti Mulya 400 Depok 2026–2031 bersama Ketua Yayasan Amanah Cerdas Bangsa, Ibu Tejaningsih Haiti—menandai fase ekspansi yang diikat oleh tata kelola dan visi yang sama.

Nuansa kebangsaan terasa kental saat untuk pertama kalinya Hymne Bakti Mulya 400 dikumandangkan. Lagu itu bukan sekadar simbol institusi, melainkan penanda identitas kolektif sekolah yang menempatkan pendidikan sebagai kerja nilai dan kebudayaan.

Diskusi panel yang berlangsung hingga siang hari menjadi ruang kontemplatif. Prof. Komaruddin Hidayat mengajak para pendidik kembali pada kepemimpinan batin—kepemimpinan yang dimulai dari kejujuran pada diri sendiri. Sementara Prof. Yudi Latif menegaskan pentingnya moral purpose dalam pendidikan: sekolah harus menjadi ruang pembentukan warga negara yang berkarakter, bukan sekadar penghasil lulusan.

Baca juga : Menemukan Moral Purpose di Medan Pendidikan

Pesan itu dipertegas secara simbolis melalui penyerahan buku karya Yudi Latif, “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia”, kepada sembilan guru perwakilan. Buku tersebut akan digunakan sebagai praktik baik penguatan pendidikan kebangsaan di Bakti Mulya 400—sebuah langkah kecil yang diharapkan memberi gema panjang dalam ruang kelas.

Pada akhirnya, Kick Off 2026 bukan sekadar penanda pergantian tahun kerja, melainkan pernyataan sikap. Bakti Mulya 400 memilih bertumbuh tanpa kehilangan nilai, maju tanpa tercerabut dari akar. Sekolah ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah, pembelajaran adalah kerja peradaban, dan masa depan tidak dibangun oleh kecepatan semata, melainkan oleh arah yang benar. Tahun 2026 pun dibuka dengan satu ikrar —melangkah ke dunia, sambil tetap setia pada iman, kebangsaan, dan martabat manusia.

Menemukan Moral Purpose di Medan Pendidikan

Menemukan Moral Purpose di Medan Pendidikan

Pada Kamis, 18 Desember 2025, bertempat di Infinity Hall Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, sebuah diskusi penting tentang kepemimpinan digelar dalam rangka Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan para guru dari seluruh unit sekolah. Yudi Latif, cendekiawan publik dan pemikir kebangsaan, hadir sebagai pembicara dalam diskusi panel bertema “Leadership: Faith & Purpose”—sebuah tema yang sengaja dipilih untuk menjawab kegelisahan mendasar dunia pendidikan: ke mana arah kepemimpinan sekolah seharusnya dibawa.

Alih-alih berbicara tentang indikator kinerja atau target institusional, Yudi Latif justru mengajak hadirin menengok lapisan paling dalam dari kepemimpinan: iman, nilai, dan tujuan hidup. Ia menyebutnya sebagai upaya menemukan moral purpose, sebuah landasan etis yang, menurutnya, menjadi kunci mengapa seseorang layak memimpin dan dipercaya.

Menurut Yudi, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengembangkan belief dan values. Di situlah letak keunggulan sekaligus tanggung jawab manusia. Iman melahirkan karakter, dan karakter membentuk cara berpikir serta bertindak. Tanpa iman—yang dipahami bukan semata pengakuan verbal, melainkan keyakinan yang hidup—manusia kehilangan pijakan untuk percaya dan, lebih penting lagi, untuk dipercaya.

“Percaya dan terpercaya adalah fondasi kepemimpinan,” ujarnya. Dalam bahasa Indonesia, kata iman kerap dipadankan dengan “percaya”. Menariknya, kata percaya berakar dari kata “bercahaya”. Orang beriman, dalam pengertian ini, semestinya memancarkan cahaya—memberi terang di tengah gelapnya jalan hidup.

Cahaya itu bukan retorika. Ia hadir dalam keberanian mengambil risiko, dalam keteguhan membangun sekolah di tengah keterbatasan, dan dalam kesanggupan bertahan saat jalan terasa gelap. Iman yang demikian, kata Yudi, bukan sekadar strong faith, melainkan strong and positive faith. Iman yang memancarkan energi positif, bukan prasangka dan kecurigaan.

Nocebo Effect vs Placebo Effect

Di titik inilah Yudi mengingatkan bahaya prasangka negatif, terutama dalam dunia pendidikan. Guru yang datang ke kelas dengan keyakinan negatif—tentang murid, tentang generasi, tentang masa depan—secara tidak sadar sedang memancarkan energi negatif. Energi itu, lambat laun, menjelma menjadi kenyataan. Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai nocebo effect. Sebaliknya, kepercayaan positif melahirkan placebo effect: keyakinan yang menggerakkan potensi dan mewujudkan hasil baik.

Yudi menyoroti kegemaran kita memberi stigma pada generasi muda: Gen Z dianggap dangkal, generasi Alpha disebut tumpul nalar. “Itu berbahaya,” katanya. Prasangka semacam itu bisa berubah menjadi self-fulfilling prophecy. Ketika guru terus-menerus “memberi makan” serigala negatif dalam diri siswa—dengan label, ejekan, atau pesimisme—maka serigala itulah yang tumbuh dan menang.

Ia mengisahkan alegori dua serigala dalam diri manusia: satu serigala positif yang menyemai harapan dan mimpi bermakna, satu serigala negatif yang meremehkan diri dan kehidupan. Serigala mana yang menang? Yang paling sering diberi makan. Di ruang kelas, gurulah yang menentukan porsi makanan itu.

Pengalaman Yudi berjumpa dengan berbagai komunitas justru menunjukkan hal sebaliknya dari stigma populer. Generasi hari ini tidak kalah kritis, bahkan berpotensi lebih cemerlang—asal ekosistemnya mendukung. Dengan gizi yang lebih baik, akses pengetahuan lebih luas, dan lingkungan yang percaya pada potensi mereka, generasi baru bisa melampaui generasi sebelumnya. Pendidikan, dalam hal ini, adalah soal ekosistem kepercayaan.

Moral is Not a Couch, But a Coach

Namun iman dan energi positif saja tidak cukup. Iman harus dibuktikan dalam karakter terpercaya. Yudi menyebut paradoks yang sering kita jumpai: orang mengaku beriman, tetapi korup; berbicara moral, tetapi curang; mengajar nilai, tetapi tak memberi teladan. “Moral is not a couch, but a coach,” katanya. Moral bukan sofa empuk untuk disandari, melainkan pelatih yang menuntut disiplin dan keteladanan.

Karena itu, guru yang tidak bisa dipercaya, mustahil mengajarkan moral. Di republik yang kaya sumber daya alam dan manusia cerdas, yang paling langka justru kepercayaan. Publik haus pada figur yang menunjukkan tanda-tanda bisa dipercaya. Sekali ada isyarat kejujuran dan integritas, dukungan tumbuh cepat—seperti hujan di tengah gurun kering.

Di ruang kelas, satu guru yang terpercaya bisa menghidupkan kembali potensi siswa yang lama kering. Kepercayaan memang sulit dibangun di tengah musim panjang ketidakpercayaan, tetapi begitu tanda-tandanya hadir, manusia dengan sendirinya berkumpul di sekitarnya.

Baca juga : Kepemimpinan: Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Dari kepercayaan itulah tumbuh motivasi dan kesadaran akan potensi diri. Yudi menekankan bahwa tidak ada manusia yang diciptakan sebagai sampah. Setiap anak datang dengan kodrat kecerdasannya masing-masing: matematis, musikal, verbal, atau bentuk lain yang sering tak terukur oleh skor IQ. Ia bahkan meragukan mitos IQ sebagai ukuran tunggal kecerdasan, mengutip Einstein bahwa jenius hanya 25 persen bakat, sisanya usaha.

Pada akhirnya, Yudi Latif menegaskan bahwa pendidikan bukanlah proyek jangka pendek untuk mencetak manusia kompetitif, melainkan proses panjang untuk melahirkan manusia bermakna. Iman memberi akar, kepercayaan memberi energi, keteladanan memberi arah, dan moral purpose memberi tujuan. Ketika setiap individu—guru maupun siswa—menemukan peran moralnya masing-masing dan menjalankannya dengan penuh kesadaran, maka pendidikan tidak hanya menghasilkan individu sukses, tetapi juga membangun peradaban yang berkeadaban. Di sanalah pendidikan menemukan panggilan tertingginya: menjadikan manusia bukan sekadar pandai hidup, melainkan layak dipercaya, berguna bagi sesama, dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.

Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Kepemimpinan: Dipandu Iman, Mencapai Tujuan

Di Infinity Hall, Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur, Kamis (18/12/ 2025), kata leadership tidak dibicarakan sebagai jargon manajemen. Ia dibedah pelan-pelan, seperti membuka halaman buku yang sudah lama disimpan. Komarudin Hidayat menyebutnya sebagai leadership with faith and purpose—kepemimpinan yang berangkat dari keyakinan, bergerak dengan tujuan.

Kick Off Meeting Sekolah Bakti Mulya 400 menjadi ruang perenungan. Bukan hanya tentang rencana kerja tahunan, tetapi tentang arah sebuah institusi pendidikan di tengah gelombang perubahan kelas menengah ibu kota. Komarudin, dengan gaya tutur yang reflektif, mengawali paparannya dari sebuah pengamatan sederhana namun menentukan: kelas menengah Jakarta hari ini semakin selektif dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya. Mereka tidak lagi sekadar mencari sekolah swasta, tetapi sekolah swasta yang unggul—menengah ke atas, dengan mutu yang bisa dipercaya.

Di situlah kualitas menjadi kata kunci pertama. Sekolah swasta, menurut Komarudin, hidup dalam hubungan organik antara pemilik, pendiri, CEO, kepala sekolah, dan guru. Tidak ada jaring pengaman bernama APBN. Jika kualitas jatuh, sekolah itu bisa runtuh. Maka lahirlah semangat korporasi—bukan dalam arti komersialisasi semata, melainkan kesadaran bahwa mutu adalah soal hidup dan mati. Maka lahirlah apa yang bisa disebut sebagai etos korporasi sekaligus etika tanggung jawab.

Orang tua kelas menengah sangat jeli. Mereka tidak hanya bertanya siapa kepala sekolahnya atau bagaimana kurikulumnya, tetapi juga memperhatikan hal-hal yang tampak sepele: kebersihan toilet, kerapian sepatu siswa, cara guru berbicara tentang murid. Pernah saya mendengar orang tua yang langsung mengurungkan niat menyekolahkan anaknya hanya karena guru casually mengatakan bahwa murid-murid di sekolah itu “nakal-nakal”. Kalimat seperti itu, betapapun spontan, mencerminkan cara pandang pendidik terhadap amanah yang diembannya.

Ciri kedua sekolah yang sehat adalah keterbukaan. Keterbukaan bukan hanya soal ide, tetapi juga soal uang. Jarang sekali sekolah mau bicara jujur tentang rencana bisnis dan kondisi keuangannya. Padahal, dengan keterbukaan, rasa kebersamaan tumbuh. Warga sekolah merasa ikut berjuang dan menikmati hasilnya bersama. Kepemimpinan yang tertutup melahirkan kecurigaan; kepemimpinan yang transparan menumbuhkan kepercayaan.

Ketiga, sekolah yang baik dikelola dengan semangat kewirausahaan. Ini bukan berarti pendidikan direduksi menjadi bisnis semata, melainkan kesadaran bahwa idealisme memerlukan penopang material yang sehat. Cashflow yang lemah membuat sekolah tidak mampu menggaji guru berkualitas. Guru yang baik tentu akan mencari tempat yang menghargai kompetensinya secara layak. Jika guru tidak berkualitas, murid tidak berkembang, alumni tidak kuat, dan pada akhirnya reputasi sekolah pun menurun. Ini lingkaran sebab-akibat yang tak terelakkan.

Keempat, di era visual dan digital, branding dan advertorial menjadi keniscayaan. Dunia hari ini digerakkan oleh tiga kekuatan besar: energi, uang, dan informasi. Gangguan pada salah satunya dapat mengguncang stabilitas global. Informasi, khususnya, memiliki daya pengaruh luar biasa terhadap emosi dan perilaku masyarakat. Tanpa komunikasi yang cerdas dan terencana, lembaga yang baik sekalipun bisa tenggelam dalam hiruk-pikuk zaman.

Kelima, kepemimpinan modern menuntut kemampuan berkolaborasi dan membangun jejaring. Tidak ada lagi pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian. Ini menuntut kecerdasan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan beradaptasi. Jika dahulu kedalaman satu disiplin ilmu sudah cukup, kini dibutuhkan keluasan wawasan dan life skills: mengelola SDM, budaya organisasi, keuangan, hingga relasi eksternal. Pemimpin sekolah dan guru pun dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Keenam, inovasi harus berjalan seiring dengan pembakuan sistem. Banyak lembaga besar tumbang bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal berinovasi. Namun inovasi tanpa sistem hanya melahirkan ketergantungan pada figur. Sekolah yang kuat adalah sekolah yang sistemnya mapan: siapapun pemimpinnya, mutu tetap terjaga karena SOP berjalan konsisten. Inilah pendekatan sistemik yang membuat institusi mampu diwariskan lintas generasi.

Baca juga : Belajar “Sharing the Planet” di Sekolah BM 400 Cibubur

Dalam konteks ini, Sekolah Bakti Mulya 400 berada pada fase yang menentukan. Ekspansi dan pembangunan sistem secara simultan bukan perkara mudah. Namun justru di titik inilah kepemimpinan berbasis iman dan tujuan diuji. Iman memberi keteguhan dalam ketidakpastian; tujuan memberi arah agar setiap langkah tidak kehilangan makna.

Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan bukan tentang mengejar pertumbuhan semata, melainkan tentang menjaga makna. Sekolah adalah ruang pembentukan nurani dan akal budi. Pemimpinnya bukan sekadar manajer, melainkan penjaga nilai. Ketika iman menjadi sumber integritas dan tujuan menjadi arah gerak, pendidikan akan melahirkan bukan hanya generasi cerdas, tetapi manusia yang utuh, berkarakter, dan berakar pada nilai kemanusiaan.

prof_komar

Memimpin Diri, Menyusun Takdir

Tulisan Reflektif dari pemikiran Prof. Dr. Komarudin Hidayat pada saat Kick Off Meeting 2026 Sekolah Bakti Mulya 400, 18 Desember 2025

Oleh karena terlalu sering dipamerkan, kepemimpinan hari ini mirip baliho lusuh di pinggir jalan: besar, mencolok, tapi isinya kosong. Semua orang ingin memimpin, sedikit yang benar-benar siap. Dalam suasana seperti itulah Komarudin Hidayat mengajukan gagasan yang terdengar sederhana, nyaris klise, tapi justru paling sulit dijalankan: leadership dimulai dari diri sendiri.

Ia tidak menyampaikannya dengan nada menggurui. Tidak pula dengan slide penuh grafik dan istilah manajerial. Ia bercerita. Tentang dirinya. Tentang desa. Tentang pesantren. Tentang buku. Tentang mimpi. Cara lama yang hari ini terasa asing, tapi justru itulah inti kepemimpinan: kejujuran pada perjalanan hidup.

Komarudin lahir dari desa miskin di Pabelan, Magelang. Pendidikan pertamanya bukan gedung megah, melainkan serambi masjid. Tidak ada laboratorium canggih, apalagi smart board. Tapi di sana ada guru—para kiai—yang tahu satu hal penting: tugas pendidik bukan sekadar mengisi kepala murid, melainkan menyalakan imajinasinya. Dari imajinasi itulah keberanian tumbuh. Dari keberanian itulah mimpi berangkat.

Ia belajar bahasa Arab, lalu membayangkan dunia Arab. Belajar bahasa Indonesia, lalu menatap dunia yang lebih luas. Pendidikan, baginya, bukan sekadar alat naik kelas, tetapi pintu keluar dari keterbatasan. Pintu gerbang masa depan. Maka wajar jika ia mengatakan masa depan bangsa, keluarga, bahkan pribadi, selalu bermula dari pendidikan.

Di pesantren itulah ia menerima satu rumus hidup yang tak pernah usang: dunia diwariskan kepada mereka yang berilmu dan berakhlak. Pintar saja tidak cukup. Baik saja juga tidak memadai. Kepintaran tanpa akhlak membuat seseorang licin tapi rapuh. Kebaikan tanpa kecakapan menjadikannya tulus tapi tersingkir. Kepemimpinan lahir dari pertemuan dua hal itu: kecerdasan dan karakter.

Komarudin juga mengingat satu kalimat yang terdengar keras, tapi jujur: jangan salahkan Tuhan jika hidupmu kalah. Tuhan telah memberi segalanya. Yang sering absen adalah kesungguhan manusia. Malas membaca, enggan belajar, takut bersaing. Dalam dunia seperti itu, iman bukan alasan untuk pasrah, melainkan energi untuk bergerak.

Pesantren membentuknya dengan disiplin intelektual yang nyaris hilang hari ini: mengamati, menulis, dan berbicara sebagai satu tarikan napas. Ia diwajibkan menulis buku harian—apa pun yang dianggap penting hari itu. Kelak, catatan itu harus dipresentasikan. Dari situ, pikiran dilatih rapi. Kata-kata dipaksa hemat. Bicara tidak lagi asal bunyi.

Buku lalu menjadi kendaraan imajinasinya. Lewat bacaan—dari kisah silat hingga petualangan heroik—ia menjelajah dunia yang tak mungkin ia capai secara fisik. Buku membuatnya merasa besar, berani, dan percaya diri. Bahkan cukup berani untuk bermimpi “menaklukkan Jakarta”. Sebuah mimpi yang bagi anak desa terdengar nekat, tapi bagi jiwa yang terlatih memimpin diri sendiri, itu sekadar langkah berikutnya.

Pesantren menanamkan prinsip self-help yang sederhana tapi keras kepala: percaya pada diri sendiri adalah pangkal kesuksesan. Maka ia berangkat ke Jakarta tanpa jaring pengaman. Tidak takut jatuh. Tidak sibuk menyalahkan keadaan. Ia yakin bisa menghidupi dirinya sendiri. Keyakinan itu bukan keangkuhan, melainkan hasil dari disiplin panjang memimpin diri.

Baca juga : Bersyukur, Kunci Ketengan dan Penguatan Jiwa

Dari sanalah kariernya bertumbuh—wartawan, intelektual, pemikir publik. Semua tampak seperti takdir, padahal sejatinya adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten. Keputusan untuk membaca saat yang lain malas. Menulis saat yang lain mengeluh. Bertahan saat yang lain pulang.

Di titik inilah gagasan leadership with faith and purpose menemukan maknanya yang konkret. Iman bukan sekadar simbol religius, melainkan kompas batin. Purpose bukan slogan motivasi, melainkan arah hidup yang jelas. Tanpa keduanya, kepemimpinan hanya menjadi soal jabatan dan tepuk tangan.

Komarudin mengingatkan dengan tegas: Anda tidak bisa memimpin orang lain jika Anda gagal memimpin diri sendiri. Anda tidak bisa meyakinkan siapa pun jika Anda sendiri ragu pada tujuan Anda. Kepemimpinan bukan soal mengatur orang, melainkan menata diri.

Mungkin itulah sebabnya krisis kepemimpinan hari ini terasa begitu akut. Kita sibuk mencetak pemimpin, tapi lupa mendidik manusia. Kita tergesa-gesa berbicara visi, tapi malas mengurus karakter. Padahal, seperti kata Komarudin, semua kepemimpinan sejati selalu bermula dari satu tempat yang sama: diri sendiri. Dari sana, barulah takdir bisa disusun dengan masuk akal.

ikhlas_web

Keikhlasan: Menenteramkan Jiwa

#FridayInsightBM400

Keikhlasan: Menenteramkan Jiwa

Resonansi dari Friday Insight Dr.H. Sutrisno Muslimin, M.Si., Jumat, 21/11/2025

Ada saat-saat ketika kita mengajar lalu hati terasa berat, langkah seakan tertarik mundur, dan batin seperti diuji tanpa henti. Pada titik-titik itulah keikhlasan sedang mengetuk pintu jiwa kita—menanyakan apakah kita masih menautkan segala yang kita lakukan pada Allah, atau sudah terpeleset pada penilaian manusia.

Keikhlasan bukan sekadar kata yang indah diucapkan di bibir. Ia adalah kerja batin yang sunyi: menerima, memberi, dan berjuang tanpa berharap kembali. Seperti akar pohon yang tak terlihat, tetapi darinyalah batang tumbuh kokoh, ranting mengembang, dan buah bermekaran.

Mengajar: Jalan Ibadah Menuju Allah

Ketika kita masuk kelas, sejatinya kita sedang menapaki jalan ibadah. Guru bukan hanya penyampai informasi—guru adalah pembentuk masa depan, penjaga fitrah, dan penuntun kecil-kecil manusia menuju cahaya Tuhannya. Maka, menciptakan lingkungan yang menuntun anak pada Allah—mengajak tahajud, mengingatkan shalat malam, menanamkan puasa—adalah bagian dari jihad yang senyap namun berpahala dahsyat.

Setiap ilmu yang kita sampaikan, setiap langkah kaki yang kita ayunkan menuju ruang kelas, sejatinya tercatat sebagai jihad fi sabilillah. Dan jihad dalam diam terkadang lebih berat daripada jihad yang tampak. Sebab lawannya bukan musuh, tetapi diri sendiri.

Hidup Menjadi Tenang Ketika Hati Ikhlas

Keikhlasan membuat kita berhenti mengejar sorak-sorai dunia. Kita bekerja bukan karena atasan, bukan karena aturan, bukan demi pujian atau apresiasi—melainkan karena kita ingin ibadah kita sampai pada Allah. Dari sinilah ketenangan lahir: ketika tujuan kita kembali pada satu arah, satu nama, satu tujuan.

Sebab orang yang merasa cukup, akan dicukupkan oleh Allah. Orang yang mengejar dunia, akan terus merasa kurang. Tapi orang yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah, tidak akan pernah kehilangan arah.

Keutamaan Ikhlas

Ada amalan kecil yang menjadi besar karena ikhlas. Menyingkirkan sampah atau duri di jalan, membantu teman sekerja, menahan amarah, memberikan tempat duduk kepada orang lain, mendoakan orang lain secara tersembunyi dan sejenisnya.

Ikhlas juga adalah pagar yang menjaga hati dari riya dan ujub. Di tengah budaya pamer, flexing, dan ingin dilihat orang, keikhlasan adalah benteng batin yang membuat pahala tetap utuh.

Dan yang paling indah, keikhlasan membawa kedamaian hati—karena hati yang ikhlas adalah hati yang merdeka.

Tanda-Tanda Orang Ikhlas

  1. Tidak kecewa saat kebaikannya tidak dipuji.
  2. Tidak marah ketika tidak dihargai.
  3. Senang beramal meski tak ada satu pun yang tahu.
  4. Tidak membandingkan amalnya dengan amal orang lain.

Kata seorang publik figur, Irfan Hakim, “Saya tidak akan mengeluh, saya selalu bilang Alhamdulillah, karena saya takut kalau saya mengeluh, kenikmatan saya akan dicabut.”
Itulah bahasa hati yang sudah memahami nikmatnya ikhlas.

Mengajarkan Ikhlas pada Anak

Keikhlasan bisa ditanamkan sejak dini:

  1. Luruskan niat saat mulai melakukan sesuatu, ajari anak menjaga nawaitu.
  2. Sembunyikan sebagian amal, agar hati terbiasa tidak mencari pengakuan.
  3. Banyak bermuhasabah, mengingat dosa dan kekurangan diri.
  4. Melatih diri menolak pujian, agar tetap rendah hati.

Keikhlasan adalah pintu bagi segala kebaikan. Ia membuat hidup sederhana terasa cukup, yang berat menjadi ringan, yang jauh terasa dekat. Mengajar dengan ikhlas bukan hanya mendidik anak-anak—tetapi juga mendidik jiwa kita sendiri agar semakin dekat dengan Allah.

Pada akhirnya, ikhlas adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Tapi setiap langkah kita di jalan itu adalah cahaya yang kelak menerangi hidup kita—di dunia, dan terutama di akhirat kelak.

Semoga Allah menjaga keikhlasan kita dalam setiap langkah yang kita hadiahkan untuk-Nya.

syukur_web

Bersyukur, Kunci Ketenangan dan Penguatan Jiwa

#FridayInsightBM400

Bersyukur, Kunci Ketengan dan Penguatan Jiwa

Resonansi dari Friday Insight Dr.H. Sutrisno Muslimin, M.Si., Jumat, 05/12/25

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan menyadari betapa banyak nikmat yang Allah titipkan kepada kita tanpa kita sadari. Ada fondasi kebahagiaan yang sering kita lupakan: ikhlas, sabar, dan syukur. Tiga kata yang sederhana, namun menjadi penopang kokohnya jiwa seorang hamba.

Tanpa tiga dasar itu, setinggi apa pun jabatan, sebesar apa pun prestasi, kebahagiaan selalu terasa menjauh. Tapi ketika ketiganya hadir dalam hati, hidup yang biasa menjadi luar biasa; nikmat kecil terasa besar; dan perjalanan yang berat pun terasa lebih ringan.

Makna Syukur yang Kerap Kita Lupakan

Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah.” Ia lebih dalam dari itu, lebih lembut, lebih dalam dan lebih menyentuh jiwa.

Pertama, syukur adalah menampakkan nikmat Allah, bukan untuk riya, tapi sebagai bentuk penghormatan atas karunia-Nya.

Ketika kita mengenakan seragam dan atribut sebagai guru di Bakti Mulya 400, itu bukan sekadar kewajiban. Itu adalah pernyataan syukur bahwa Allah telah memberikan kita amanah mulia: mendidik generasi terbaik di salah satu sekolah terbaik.

Kedua, syukur adalah memuji Sang Pemberi Nikmat. Bukan memuji nikmatnya, tapi memuji Allah yang telah menurunkannya.

Ketiga, syukur adalah menganggap besar setiap nikmat, meski terlihat kecil dalam ukuran dunia.

Senyum murid, ucapan terima kasih sederhana, gaji yang datang tepat waktu, kesehatan untuk bangun pagi—semuanya adalah rezeki dari Allah yang mudah kita abaikan jika hati tak peka.

Dan ketika kita memandang nikmat itu besar, maka Allah benar-benar akan menjadikannya cukup. Hati yang lapang tidak dibentuk oleh besarnya rezeki, tapi oleh besarnya rasa syukur.

Tiga Bentuk Syukur yang Menjaga Kita Tetap Tenteram

  1. Syukur dengan Hati

Merasa cukup, tidak banyak mengeluh, dan senantiasa mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Hati yang bersyukur tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain, sebab ia tahu—yang terbaik sudah Allah pilihkan untuknya.

2. Syukur dengan Lisan
Ucapan lembut yang memuji Allah, doa yang tidak pernah putus, dan lisan yang tidak mengeluh. Jika kita belajar mengurangi keluhan, pelan-pelan hidup terasa lebih ringan.

3. Syukur dengan Perbuatan
Menggunakan nikmat untuk membantu orang lain. Jika diberi harta, sisihkan untuk sedekah. Carilah orang-orang yang tepat, yang membutuhkan, yang mendekatkan hati kita pada kasih sayang Allah.

Ada Tiga Nikmat yang Sering Kita Abaikan

1. Nikmat Tubuh yang Sehat

Kesehatan adalah kendaraan utama untuk beribadah. Bangun untuk tahajud, menjaga tubuh dengan olahraga, merawat diri untuk tetap kuat dalam mengajar.

Dan jika suatu hari tubuh tidak sehat, tetaplah bangun untuk bersujud—karena tanda hamba bukan hanya yang kuat, tapi yang tetap berusaha mendekat pada Rabb-nya.

2. Nikmat Waktu

Waktu adalah nikmat yang tak pernah kembali. Jangan habiskan terlalu banyak untuk hal-hal yang tak bermanfaat—scroll media sosial tanpa tujuan, menghabiskan jam tanpa makna. Waktu yang terkelola adalah bentuk syukur yang nyata.

3. Nikmat Ilmu

Ilmu adalah cahaya. Maka tugas kita bukan hanya menyimpannya, tetapi membaginya.
Persiapkan diri sebelum mengajar, karena ilmu yang diajarkan dengan sungguh-sungguh mendatangkan keberkahan yang tak terhingga.

Tanda-Tanda Seseorang yang Benar-Benar Bersyukur

  1. Tidak banyak mengeluh.
    Keluhan memadamkan cahaya hati.
  2. Dalam urusan dunia, melihat ke bawah, bukan ke atas.
    Ini menumbuhkan rasa cukup dan menyejukkan jiwa.
  3. Merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
    Cukup bukan berarti pas-pasan—cukup adalah ketika hati merasa tenang.
  4. Menggunakan nikmat untuk menolong orang lain.
    Sedekah adalah cara untuk menolong orang lain. Sebab sedekah bukan tentang jumlah, tapi tentang ketulusan.

Akhirnya…

Syukur adalah seni melihat hidup dari sudut pandang Allah.
Sabar adalah cara Allah mendewasakan jiwa.
Ikhlas adalah jalan menuju ketenangan yang tak tergoyahkan.

Dan ketika tiga hal itu tumbuh bersama, hidup menjadi lebih jernih, langkah menjadi lebih ringan, dan hati menjadi lebih dekat dengan-Nya.

Semoga Allah menguatkan kita untuk menjadi hamba yang lebih bersyukur, lebih sabar, dan lebih ikhlas—serta lebih siap menerima setiap nikmat-Nya dengan hati yang lapang.

sabar_materi_updated

Sabar Sebagai Pilar Ketangguhan

#FridayInsightBM400

Sabar Sebagai Pilar Ketangguhan

Resonansi dari Friday Insight Dr.H. Sutrisno Muslimin, M.Si., Jumat, 28/11/25

Ada satu kata yang sering kita ucapkan, tetapi jarang benar-benar kita menghayatinya: sabar. Ia terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya adalah mahkota dari seluruh kualitas batin manusia. Dalam sebuah renungan yang jujur dan lugas, kita diingatkan bahwa sabar bukan sekadar kemampuan menunggu, melainkan kemampuan menahan, menjaga, dan tetap teguh pada kebaikan saat keadaan justru mendorong kita untuk runtuh.

Sabar adalah Kendali Terbesar Seorang Manusia

Sabar pertama-tama adalah kemampuan menahan diri dari suara hati yang gelap—prasangka buruk, dendam, dan kebencian. Sebab sebelum lisan mengucapkan kata, sebelum tangan melakukan tindakan, semua dimulai dari apa yang bergetar dalam hati.

Kata Imam Al-Ghazali, hati itu ibarat cermin. Bila ia bersih, ia memantulkan benar dan salah dengan jernih. Ia menjadi kompas moral. Tetapi bila ia buram, maka manusia kehilangan kendali atas dirinya. Dan kehilangan kendali adalah awal dari semua kerusakan.

Karena itu, sabar bukan kelemahan. Ia justru kekuatan tertinggi, karena ia mengajarkan kita untuk tetap menjadi manusia meski dunia membentur kita dengan keras.

Tiga Pilar Sabar: Ketaatan, Menjauhi Maksiat, dan Menerima Takdir

  1. Sabar dalam Ketaatan
    Menjaga shalat Isya (dengan qoblihah dan ba’diah) tanpa tergesa, bangun shalat tahajud dan witir di malam yang gelap, dingin dan lelah—semua itu adalah latihan jiwa. Ketaatan bukan selalu mudah, tetapi justru kesabaran di dalamnya yang membuatnya bernilai.
  2. Sabar dalam Menjauhi Maksiat
    Di tengah dunia yang penuh kebisingan, ketidakadilan, dan berita-berita luka, kita diuji. Melihat kemungkaran harus membangunkan minimal getaran protes dalam hati. Kalau kita punya kekuasaan, kita menolong. Kalau tidak punya, kita berdoa. Yang penting: hati jangan mati.
  3. Sabar terhadap Takdir
    Hidup sesungguhnya hanyalah perpindahan dari satu takdir ke takdir lainnya. Kita tidak selalu memilih jalannya, tetapi kita selalu memilih sikap kita.
    Saat sakit datang, saat jalan hidup berbelok tanpa rencana, saat orang datang dan pergi—semua itu takdir. Tetapi sebelum takdir final ditetapkan, manusia diberi ruang untuk mengusahakan perubahan. Dan di situlah sabar menemukan maknanya.

Sabar Adalah Penjaga Karakter

Sabar merupakan pagar terakhir yang menjaga karakter. Tanpanya, manusia mudah terseret dalam amarah, kesombongan, dan keputusan-keputusan yang disesali seumur hidup.

Ketika engkau kehilangan uang, engkau kehilangan sedikit.
Ketika engkau kehilangan kesehatan, engkau kehilangan banyak.
Tetapi ketika engkau kehilangan karakter, engkau kehilangan segalanya.

Cara Mengumpulkan Sabar

  1. Perbanyak zikir dan istighfar, karena hati yang basah oleh zikir lebih mudah dijaga.
  2. Ingat besarnya pahala bagi orang sabar, pahala tanpa batas.
  3. Lihatlah ujian orang lain yang lebih berat, agar kita tidak mudah mengeluh.
  4. Sadar bahwa setiap urusan terjadi dengan izin Allah, sehingga hati tidak memberontak terhadap realitas.
  5. Kuatkan iman dan tawakal.
  6. Latih diri dari hal-hal kecil, karena kesabaran besar tumbuh dari kesabaran kecil.

Ciri Orang Sabar

  1. Tenang menghadapi masalah besar.
  2. Tidak tergesa membuat keputusan.
  3. Tetap berbuat baik meski diperlakukan tidak baik.
  4. Tidak mengeluh berlebihan.
  5. Konsisten dalam kebaikan.
  6. Menerima takdir sambil terus berusaha.

Dan yang terpenting: ia tidak menyimpan dendam. Sebab dendam adalah racun pelan yang mempercepat kematian jiwa.

Batas Sabar

Sabar bukanlah pasrah buta yang membiarkan apa pun terjadi tanpa sikap. Sabar adalah kekuatan batin yang terarah—ia tahu kapan harus menahan diri, tetapi juga tahu kapan harus berdiri tegak. Karena itu, ada batas-batas yang tidak boleh kita sabari.

Pertama, tidak boleh sabar ketika melihat maksiat. Ketika kemungkaran terjadi di depan mata, diam berarti membiarkan keburukan tumbuh tanpa kendali. Sabar di sini bukan pilihan; yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengingatkan dan mencegah.

Kedua, tidak boleh sabar terhadap kezaliman. Entah kita yang dizalimi atau orang lain yang menjadi korban, kita memiliki kewajiban moral untuk melawan. Kezaliman tidak akan berhenti hanya karena kita bertahan; ia berhenti ketika seseorang berani berkata cukup.

Ketiga, tidak boleh sabar dalam hal yang menyebabkan hilangnya hak. Jika kesabaran membuat kita merelakan hak yang seharusnya kita miliki—kehormatan, keadilan, atau kesempatan—maka itu bukan lagi kesabaran, melainkan pengabaian terhadap diri sendiri.

Keempat, sabar tidak berarti boleh menyakiti diri sendiri. Kesabaran yang membuat kita tertekan, memendam luka, atau menanggung beban yang tak sehat bukanlah sikap mulia. Itu hanyalah bentuk ketidakberanian untuk berkata bahwa sesuatu perlu diubah.

Pada akhirnya, sabar bukan berarti lemah. Justru sebaliknya, sabar berarti kuat pada waktunya dan tegas pada tempatnya. Sabar adalah keseimbanganantara ketenangan jiwa dan keberanian bertindak—karena tidak semua hal layak ditahan, dan tidak semua hal boleh dilepaskan begitu saja.

Penutup: Sabar, Jalan Setiap Manusia Hebat

Sabar bukan hanya untuk orang tua, bukan hanya untuk ustaz atau guru, bukan hanya untuk mereka yang sedang diuji berat. Sabar adalah napas panjang yang harus dipelajari setiap manusia yang ingin hidupnya bermakna.

Karena hidup bukan dimulai dari usia 20, 30, atau 40. Hidup dimulai setiap kali kita memilih untuk tetap teguh, tetap waras, dan tetap berpegang pada kebaikan—meski dunia seolah mendorong kita untuk menyerah.

Sabar adalah cermin hati.
Dan hati yang jernih adalah jalan menuju hidup yang diberkahi.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dicukupkan pahalanya tanpa batas.

Innallāha ma‘aṣ-ṣābirīn.
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang saba

sharing the planet

Belajar “Sharing the Planet” di Sekolah BM 400 Cibubur

Cibubur — Rabu, 26 November 2025, suasana perpustakaan Bakti Mulya 400 School Cibubur tampak berbeda dari biasanya. Rak-rak buku yang tenang menjelma menjadi penanda petualangan baru ketika siswa-siswi Primary Years Programme (PYP) Grade 1 berkumpul menyambut narasumber dari Divers Clean Action (DCA) https://www.diverscleanaction.org/ —komunitas penyelam yang mendedikasikan diri untuk menjaga kebersihan dan keselamatan laut Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB ini menjadi bagian penting dari Unit of Inquiry (UOI) bertema “Sharing the Planet”, sebuah pembelajaran yang mengajak siswa memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan tanggung jawab bersama menjaga keseimbangan alam.

Menurut Slamet Suwanto, Koordinator PYP Bakti Mulya 400 Cibubur yang menjadi narasumber pendamping, kegiatan ini dirancang agar pengalaman konkret dapat memperdalam pemahaman siswa. “Anak-anak perlu merasakan langsung cerita dari para pelaku di lapangan. Itu membuat pembelajaran lebih bermakna,” ujarnya.

Cerita Nyata dari Dunia Bawah Laut

Sesi dimulai dengan pemaparan foto dan video hasil penyelaman di berbagai perairan Indonesia. Gambar terumbu karang berwarna-warni, penyu yang berenang tenang, dan ikan-ikan kecil yang melintas di antara bebatuan membuat anak-anak terkagum-kagum.

Namun keindahan itu ditingkahi kenyataan pahit. Narasumber menunjukkan foto penyu yang terlilit jaring, karang yang memutih, hingga sampah rumah tangga yang terdampar di kedalaman laut.

Ini rumah mereka,” katanya sembari memperlihatkan foto seekor penyu yang tubuhnya terimpit limbah plastik. “Kalau kita tidak jaga, mereka tidak bisa bertahan.

Anak-anak yang sebelumnya ramai tiba-tiba hening. Beberapa terlihat menatap foto lama-lama, seakan membandingkan benda-benda itu dengan keseharian mereka. Momen ini menjadi titik awal munculnya empati yang menjadi inti pembelajaran UOI.

Bagaimana Penyelam Membersihkan Laut?

Setelah sesi pengenalan, siswa diajak memahami bagaimana DCA bekerja. Mereka menyaksikan video para penyelam yang mengangkat sampah dari dasar laut menggunakan jaring besar, memilahnya, hingga mencatat data untuk tujuan riset.

Kami bukan hanya menyelam dan mengambil sampah,” jelas narasumber. “Kami mencatat jenis dan jumlahnya untuk mengetahui pola pencemaran.

Anak-anak juga menyaksikan adegan penyelamatan hewan laut—penyu Bali yang berhasil dibebaskan dari lilitan tali nilon serta ikan pari kecil yang terjebak alat pancing. Wajah siswa tampak bergantian antara kaget dan prihatin.

Perpustakaan berubah menjadi ruang belajar yang hidup, tempat anak-anak mengalami secara langsung bagaimana upaya pelestarian laut dilakukan.

Sesi Tanya Jawab yang Membangun Kesadaran

Bagian paling menarik muncul ketika sesi tanya jawab dimulai. Anak-anak mengangkat tangan bersamaan, mengajukan pertanyaan spontan khas usia PYP Grade 1.

Kenapa lautnya bisa kotor?” tanya seorang siswa.
Karena sampah dari darat terbawa air hujan dan sungai hingga ke laut,” jawab penyelam.

Ikan-ikan kalau rumahnya kotor pergi ke mana?
Ada yang pindah, ada yang mati, karena mereka kehilangan tempat tinggal.

Pertanyaan tentang hiu memancing tawa seluruh ruangan. “Apakah penyelam takut hiu?
Hiu tidak berbahaya kalau tidak diganggu. Laut yang rusak justru lebih berbahaya.

Dialog sederhana ini membuat konsep Sharing the Planet menjadi lebih mudah dipahami: manusia, hewan, dan alam saling terhubung. Setiap keputusan membawa pengaruh bagi keseimbangan kehidupan.

Menghubungkan Pembelajaran dengan Aksi Nyata

Usai sesi bersama DCA, guru-guru melanjutkan diskusi di kelas. Anak-anak diajak merenungkan: apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu menjaga laut?

Baca juga : Heroes’ Day & Parents’ Workshop – “My Family is My Hero” di Sekolah BM 400 Cibubur

Jawaban mereka sederhana namun bermakna:

  • membawa botol minum sendiri,
  • mengurangi sampah plastik,
  • membuang sampah pada tempatnya,
  • mengingatkan keluarga agar menjaga lingkungan.

Menurut Slamet Suwanto, membangun kebiasaan kecil seperti itu adalah fondasi penting dalam pendidikan lingkungan sejak dini. “Anak-anak adalah generasi yang akan mewarisi bumi. Tanggung jawab melindungi laut dimulai dari langkah-langkah kecil yang mereka lakukan hari ini,” ujarnya.

Planet ini adalah rumah bersama, dan setiap orang—termasuk anak-anak—punya peran menjaga keberlanjutan hidup di dalamnya.