<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>opini Archives - Bakti Mulya 400 Internasional School Cibubur</title>
	<atom:link href="https://baktimulya400cibubur.sch.id/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://baktimulya400cibubur.sch.id/category/opini/</link>
	<description>International School Holistic Education with Islamic Foundation</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Jun 2021 04:26:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://baktimulya400cibubur.sch.id/wp-content/uploads/2024/11/cropped-cropped-Logo1-32x32.png</url>
	<title>opini Archives - Bakti Mulya 400 Internasional School Cibubur</title>
	<link>https://baktimulya400cibubur.sch.id/category/opini/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>EVERYONE CAN CREATE</title>
		<link>https://baktimulya400cibubur.sch.id/everyone-can-create/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[-]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2021 04:26:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baktimulya400.sch.id/?p=2965</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh : Nia Maulidhia Ibrahim Everyone Can&#160;Create merupakan ciri pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Bakti Mulya 400. Pembelajaran yang difasilitasi dengan Ipad ini membuat guru dan siswa lebih kreatif menciptakan produk belajar. Lebih-lebih &#160;di era pandemi yang mengharuskan distance learning, siswa membutuhkan aktivitas pembelajaran yang menyenangkan dan tetap produktif. Untungnya di SMP Bakti Mulya 400 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id/everyone-can-create/">EVERYONE CAN CREATE</a> appeared first on <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id">Bakti Mulya 400 Internasional School Cibubur</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>oleh : Nia Maulidhia Ibrahim</p>



<p><em>Everyone Can&nbsp;Create</em> merupakan ciri pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Bakti Mulya 400. Pembelajaran yang difasilitasi dengan Ipad ini membuat guru dan siswa lebih kreatif menciptakan produk belajar. Lebih-lebih &nbsp;di era pandemi yang mengharuskan <em>distance learning</em>, siswa membutuhkan aktivitas pembelajaran yang menyenangkan dan tetap produktif.</p>



<p>Untungnya di SMP Bakti Mulya 400 telah mengembangkan program peningkatan kualifikasi guru dalam penguasaan kelas berbasis teknologi. Dalam program ini guru dilatih untuk menjadi <em>Apple Teacher</em> sehingga mampu menyajikan pembelajaran multi moda dan multimedia.</p>



<p>Untuk menjadi seorang <em>Apple Teacher</em> perlu persiapan yang cukup panjang. Meskipun bagi saya menggunakan produk Apple bukanlah hal baru akan tetapi untuk menjadi seorang Apple Teacher perlu lebih menguasai elemen dasar dari aplikasi yang diintegrasikan dengan penguasaan materi ajar di sekolah. Karena itu para calon <em>Apple Teacher</em> diajarkan menggunakan Ipad yang dibimbing oleh seorang <em>Apple Distinguieshed Educator</em>.</p>



<p>&nbsp;Dalam sesi pelatihan tersebut guru diajarkan banyak <em>software </em>pendukung yang bisa membuat pembelajaran lebih interaktif, menyenangkan dan produktif. Pada tahap akhir dari kegiatan pelatihan yang berlangsung satu tahun tersebut, dilakukanlah sertifikasi untuk mendapat predikat <em>Apple Teacher.</em></p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/nia-2-1024x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-2980" width="583" height="583"/></figure>



<figure class="wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img decoding="async" src="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/avi-apple-teacher-1-1024x473.jpeg" alt="" data-id="2975" data-full-url="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/avi-apple-teacher-1.jpeg" data-link="https://baktimulya400.sch.id/everyone-can-create/avi-apple-teacher-1/" class="wp-image-2975"/></figure></li><li class="blocks-gallery-item"><figure><img decoding="async" src="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/avi-apple-teacher1-1-1024x573.jpeg" alt="" data-id="2974" data-full-url="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/avi-apple-teacher1-1.jpeg" data-link="https://baktimulya400.sch.id/everyone-can-create/avi-apple-teacher1-1/" class="wp-image-2974"/></figure></li></ul></figure>



<p>Sebagai seorang <em>Apple Teacher</em> sekaligus guru biologi, saya merasa sangat terbantu dengan penggunaan Ipad. Biologi memiliki banyak teori dan konsep yang harus dikuasi oleh peserta didik. Dengan menggunakan Ipad, visualisasi teori dan konsep bisa dijelaskan secara lengkap dan terperinci. Dengan demikian menjadikan peserta didik lebih mudah memahaminya.</p>



<p>Satu contoh aplikasi yang paling saya sukai di Ipad adalah <em>Plant Snap</em>. Dengan menggunakan aplikasi ini peserta didik dapat mengidentifikasi tanaman yang ada disekitarnya dengan mudah.</p>



<p>Penggunaan Ipad bukan hanya dilakukan pada mata pelajaran biologi. Semua mata pelajaran di SMP Bakti Mulya 400 &nbsp;mengintegrasikan Ipad sebagai media pembelajaran utama. Dengan demikian masing-masing guru <em>Apple Teacher</em> juga memiliki kekhasan dalam menerapkan teknologi sesuai mata pelajaran masing-masing.</p>



<p>Memang ada pula pertanyaan, mengapa tidak menggunakan laptop sebagai media pembelajaran utama?</p>



<p>Nah. Hampir semua <em>software</em> yang ada di laptop bisa diakses di Ipad. Sayangnya tidak berlaku kebalikannya. Bahkan banyak fitur di Ipad yang tidak bisa diakses di laptop. Penggunaan Ipad lebih sederhana dan praktis sehingga wajar saja jika Ipad menjadi lebih unggul dibandingkan laptop. Selain digunakan untuk keperluan <em>Zoom</em> dan <em>Google Meet</em>, Ipad digunakan untuk pengumpulan tugas melalui <em>Padlet,</em> pembuatan tugas menggunakan <em>Keynote</em>, membuat meng-<em>arrangement</em> musik menggunakan <em>Garage Band</em> dan masih banyak lagi keunggulan lainnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk melengkapi gambaran penggunaan Ipad sebagai perangkat yang mengintegrasikan kegaiatan belajar, berikut saya&nbsp; berikan contoh skenario pembelajaran jarak jauh (<em>online)</em> mata pelajaran biologi:</p>



<p>Pertama, setelah guru dan peserta didik berkumpul melalui <em>Google Meet, </em>dilanjutkan penjelasan tujuan pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam hal ini tujuan pembelajarannya adalah pengamatan terhadap perkembangan tanaman.</p>



<p>Selanjutnya siswa akan melakukan aktivitas belajar di lingkungan rumah dengan cara: (1) melakukan pengamatan dan mencatat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, (2) membuat foto pertumbuhan tanaman menggunakan Ipad.</p>



<p>Langkah berikutnya adalah siswa membuat laporan yang disusun dalam bentuk presentasi menggunakan <em>Keynot</em>e dan <em>Voice Note</em>. Laporan tersebut terlebih dahulu diunggah ke <em>Padlet </em>dan <em>Google Classroom</em> untuk selanjutnya masing-masing siswa melakukan presentasi.</p>



<p>Dengan melakukan kegiatan tersebut maka kegiatan tiadk hanya bersifat kontekstual namun juga otentik.</p>



<p>=====</p>



<p>Lampiran (Portofolio penugasan menggunakan Ipad)</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/lampiran1.png" alt="" class="wp-image-2968"/></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/lampiran2-1024x576.png" alt="" class="wp-image-2966"/></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2021/06/lampiran3-1024x576.png" alt="" class="wp-image-2967"/></figure>
<p>The post <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id/everyone-can-create/">EVERYONE CAN CREATE</a> appeared first on <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id">Bakti Mulya 400 Internasional School Cibubur</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MODEL PEMBELAJARAN DI KELAS PASCA COVID 19</title>
		<link>https://baktimulya400cibubur.sch.id/model-pembelajaran-di-kelas-pasca-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[-]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2020 19:19:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baktimulya400.sch.id/?p=2527</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Hadi Suwarno Sejak terjadinya pandemic Covid 19, kalangan pendidik – siap tidak siap&#8211; dipaksa untuk mengubah strategi pembelajannya. Kegiatan yang semula school base berubah menjadi home base. Munculnya home learning merupakan kegiatan sekolah yang berlangsung di rumah. Jadilah home learning merupakan kegiatan yang menggabungkan kompetensi guru, pengasuhan orang tua dan kemandirian anak. Kegiatan tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id/model-pembelajaran-di-kelas-pasca-covid-19/">MODEL PEMBELAJARAN DI KELAS PASCA COVID 19</a> appeared first on <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id">Bakti Mulya 400 Internasional School Cibubur</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh Hadi Suwarno</p>



<p>Sejak terjadinya pandemic Covid 19,
kalangan pendidik – siap tidak siap&#8211; dipaksa untuk mengubah strategi
pembelajannya. Kegiatan yang semula <em>school base</em> berubah menjadi <em>home
base</em>. Munculnya <em>home learning</em> merupakan kegiatan sekolah yang berlangsung
di rumah. Jadilah <em>home learning</em> merupakan kegiatan yang menggabungkan
kompetensi guru, pengasuhan orang tua dan kemandirian anak. Kegiatan tersebut
selain penting juga bisa berdampak signifikan pada hasil belajar siswa. Hal tersebut
bisa menjadi hal normal baru (<em>the new normal</em>) yang bisa dipraktekkan dalam
pembelajaran jangka panjang. </p>



<p>Normalitas baru hakekatnya penguatan kegiatan
yang sudah berlangsung yang bersifat positif (<em>best practice</em>). Bisa disebut
model bila hal tersebut telah dilakukan terus-menerus sebagai pola kegiatan.
Nah, hal baik apa yang perlu dilanjutkan menjadi model pembelajaran di kelas
pasca covid 19?</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://baktimulya400.sch.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-26-at-22.55.15-410x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-2528"/></figure></div>



<p><strong>Kurikulum Individual</strong></p>



<p>Hampir semua sekolah menerapkan kurikulum
yang bersifat baku. Di didalamnya ada sejumlah pelajaran bersifat nasional
sampai lokal. Dengan sistem demikian maka semua anak dianggap sama dan
diperlakukan sama. </p>



<p>Pada masa <em>home learning</em> Covid 19
ini kita mengalami kesulitan untuk menyamaratakan semua siswa. Guru dihadapkan
untuk bisa mengakomodasi perbedaan individu. Guru harus mengakui perbedaan
potensi siswa bahkan lingkungan dimana mereka tinggal. </p>



<p>Pada masa mendatang perbedaan individu,
terutama aspek kecerdasan, bakat, minat dan modalitas perlu mendapatkan prioritas.
Sudah selayaknya bukan hanya kurikulum nasional dan lokal namun ada kurikulum
individual.</p>



<p>Dalam hal kecerdasan dikembangkan
kecerdasan beragam (<em>multiple intelligence</em>). Dalam hal bakat dan minat
telah siswa dibimbing memiliki kegiatan yang terencana dari usia dini sampai
remaja. Dan dalam hal modalitas, siswa telah dipetakan penggunaan peran
inderanya dalam belajar.</p>



<p><strong>Penalaran dan Kemandirian&nbsp;</strong></p>



<p>Selama ini pembelajaran konvensional
sangat mengandalkan referensi buku teks. Kegiatan belajar juga dilakukan dengan
cara menulis di buku tulis, mengisi lembar kerja untuk kegiatan praktek dan
melakukan ujian berbasis paper and pencil. </p>



<p>Namun datangnya <em>home learning</em> Covid
19 yang begitu tiba-tiba membuat segalanya menjadi dramatis, karena semua hal
tersebut harus dilakukan serba digital.</p>



<p>Untungnya sekarang ini sudah di era
revolusi industri 4.0 dimana sumber bahan ajar digital sangat mudah didapatkan.
Ada banyak pilihan dalam pengelolaan kelas dengan <em>Learning management system</em>
(LMS). Dan ada beragam pilihan dalam melaksanakan ujian online.</p>



<p>Hal ini meyakinkan kita tujuan belajar
bukan sekedar mendapatkan bahan ajar akan tetapi mengolah bahan ajar itu.
Tujuan belajar yang sebenarnya menggunakan daya nalar, memupuk empati dan
menciptakan produk hasil belajar (cipta, rasa, karsa). </p>



<p>Nilai pembelajaran tertinggi adalah
menciptakan siswa yang memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat dengan
caranya sendiri. Nilai ini bisa diperoleh siswa jika mereka mendapatkan cara
untuk mempelajari sesuatu (<em>how to learn</em>) bukan sekedar apa yang
dipelajari dari suatu pelajaran.</p>



<p><strong>Kelas Terbalik (Flipped
Classroom)</strong></p>



<p>Dalam sistem pembelajaran tradisional,
konsep atau materi pelajaran disajikan guru di kelas. Umumnya yang sajian
tersebut memiliki level belajar LOTS (<em>low order thinking skills</em>).
Sedangkan penugasan dan projek yang bersifat HOTS (<em>high order thinking
skills</em>) justru dibuat sebagai pekerjaan rumah.</p>



<p>Dengan <em>home learning</em> masa Covid
19, guru telah melakukan delivery pembelajaran ke rumah siswa secara online.
Kegiatan tersebut dilakukan guru dengan metode sinkron (teleconference) maupun
asinkron (tunda, misalnya memberi tugas di google classroom). </p>



<p>Dengan demikian fungsi rumah sebagai
tempat mempelajari konsep atau materi pelajaran bisa diciptakan oleh guru. Siswa
mempelajari konten belajar yang bersifat LOTS di rumah secara mandiri.</p>



<p>Selanjutnya siswa akan melakukan
pembelajaran di kelas dengan konten belajar yang bersifat HOTS. Siswa yang
datang ke kelas sudah memiliki pemahaman materi sehingga kegiatan berpusat pada
diskusi antar siswa (<em>student center</em>). Semua siswa akan terlibat secara
aktif (<em>active&nbsp;learning</em>). Pembelajaran dirancang untuk memecahkan
masalah (<em>problem base learning</em>) juga untuk menghasilkan produk otentik
sepedan (<em>project based learning).</em></p>



<p><strong>Blended Learning</strong></p>



<p>Seperti disampaikan di atas, pada masa <em>home
learning</em> Covid 19, telah terjadi perubahan sumber belajar dari buku teks
kepada sumber digital. Kata ‘blend’ mengingangatkan kita pada ‘blender’ yaitu
alat di dapur yang digunakan untuk mencampur secara merata suatu adonan. <em>Blended
learning</em> merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan sistem pendidikan
konvensional dengan sistem yang serba digital.</p>



<p>Kombinasi sumber konvensional dan digital
disesuaikan dengan karakteristik usia siswa dan mata pelajaran. Pada usia
anak-anak proporsi sumber digital bisa hanya 25% selebihnya merupakan
benda-benda nyata untuk stimulasi motoric. Sebaliknya pada usia sekolah atas
sumber digital bisa mencapai 75% dan memacu berpikir abstaksi.</p>



<p>Karakteristik mata pelajaran juga berbeda
dalam penerapan blended learning. Mata pelajaran dengan sifat life skill bisa
hanya menggunakan 25% sumber digital, selebihnya merupakan praktek. Sedangkan
mata pelajaran bersifat akademik bisa menggunakan 50% sumber digital. Bahkan
untuk matapelajaran pengetahuan umum bisa menggunakan 75% sumber digital.</p>



<p>Pengenalan sumber belajar digital bukan
hanya untuk melengkapi bahan ajar itu sendiri. Namun yang paling penting justru
menyiapkan siswa menjadi warga digital <em>(digital citizenship)</em> yang
bertanggungjawab, memupuk daya ekplorasi dan membina rasa ingin tahu <em>(curiosity).</em></p>



<p><strong>Guru Sebagai Coaching &amp;
Mentoring</strong></p>



<p>Dalam masa <em>home learning</em> Covid 19,
dominasi guru atas siswa menjadi berkurang. Pengurangan tersebut oleh sebab
guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi bagi siswa. Karena sumber
informasi bisa diperoleh dari akses internet.</p>



<p>Selain itu guru juga tidak lagi menjadi
satu-satunya penentu nilai. Karena dalam keseharian ada orang tua sebagai
pengontrol nilai. </p>



<p>Namun demikian peran guru menjadi lebih
penting sesuai dengan era yang berubah tersebut. Pada masa lampau guru
menduduki herarki di atas murid dalam segala hal. Guru tetap menduduki herarki
di atas murid dalam hal usia dan kedewasaan. Namun dalam fungsi pembelajaran
guru adalah pelatih (<em>coaching</em>) dan pembimbing (<em>mentoring</em>) bagi
siswa.</p>



<p>Kata kunci dalam aktivitas coaching adalah menemukan
masalah, merumuskan cara memecahkan masalah dan langkah-langkah yang bisa
dilakukan untuk memecahkan masalah. Peran seorang <em>coach</em> (guru) adalah
memfasilitasi agar <em>coachee</em> (murid) menemukan masalah dan
memecahkannya sendiri.</p>



<p>Sedangkan
mentoring merupakan proses pembinaan dan bimbingan dengan hubungan emosional
yang kuat dari guru (<em>mentor</em>) kepada siswa (<em>mentee)</em> bertujuan
untuk membentuk pertumbuhan, perkembangan, kompetensi dan karakter ke arah yang
positif.</p>



<p>Dalam coaching diperlukan kompetensi
pedagogi &amp; professional seorang guru. Sedangkan dalam mentoring diperlukan
kompetensi kepribadian dan sosial guru.</p>
<p>The post <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id/model-pembelajaran-di-kelas-pasca-covid-19/">MODEL PEMBELAJARAN DI KELAS PASCA COVID 19</a> appeared first on <a href="https://baktimulya400cibubur.sch.id">Bakti Mulya 400 Internasional School Cibubur</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
